7.05.2017

BOM-BAR-DIR


Ini terjadi setiap hari.

Ralat, maksudku setiap waktu.

Ledakan demi ledakan akhirnya menghancurkan dinding tempatku bersembunyi. Membuat lubang besar yang memudahkan musuh untuk mengincar kepalaku.

Original Photo by Stijn Swinnen / Edited by me


Suatu waktu Aku berlari sendirian. Menyusupi setiap siku kota dalam diam. Takut semua orang mendengarku. Takut mereka tau, Aku sasaran yang paling empuk untuk ditembak mati.

Instingku berbicara, meski mulutku tertutup rapat. Mensiasati langkah, tanpa membuka kesempatan untuk siapapun mendekat.

Kedua mataku mendetail ke setiap arah. Setiap pergerakan ku baca. Bahkan sekecil angin yang menggerak, Aku tetap harus tau.

Semata – mata karena Aku paham, ketakutan adalah Guru yang paling bijaksana.

Aku tidak menutup kemungkinan jika suatu saat, seseorang menemukanku dalam ke-tidak-siapan. Melumpuhkan pertahanan, kemudian meledakan kepalaku.

Tapi setidaknya, sampai “siapapun dia” yang dengan handalnya membuatku kehabisan nafas, datang, Aku bisa bertahan semampuku.

Kota ini ramai oleh orang – orang yang berusaha untuk bertahan hidup. Dari apa ? Dari kehidupan itu sendiri. Dari balik tempat perlindungannya, mereka mengintip. Sesekali keluar untuk menjarah kesempatan orang lain.

Semua orang terlihat selalu siap, selalu waspada. Membuat skenario terbaik untuk bisa bertahan lebih lama. Alih – alih jika bisa sampai selamat dan bahagia.

Mereka selalu memburu. Meski kadang tidak selalu terlihat, lebih banyak sembunyi – sembunyi.

Aku yang berkubang diantara mereka juga sama. Bertahan hidup dari kehidupan itu sendiri. Bedanya Aku tidak memburu, Aku cukup hanya dengan mencuri waktu.

Di titik buta kota, ada gorong – gorong bekas pembuangan. Tempat ternyaman untuk ku menaruh badan. Bersembunyi saat lelah berlarian.

Merakit senjataku didalamnya, merencanakan caraku bertahan hidup selanjutnya, juga memuaskan diriku dalam rasa aman. Untuk sementara. Karena di suatu waktu nanti, tempat ini juga pasti akan ditemukan.

Ironi. Aku suka mempermainkan arah, tapi tetap butuh tempat untuk pulang.

Oh iya, dalam sehari, mungkin hampir setiap beberapa jam sekali terdengar bunyi ledakan. Menggetarkan langit – langit. Membuatku bergidik tersiaga.

Entah meledak dimana, dan siapa yang meledakannya. Tapi sepertinya dekat, membuatku merasa terancam.

Rasanya seperti dipaksa mengundurkan diri. Secara tidak langsung berkata, “Sudahlah cukup sampai sini saja.”

Yang selalu dilanjutkan denganku yang memilih meringkuk dalam kebimbangan.

Ini semua, seberbahaya itu. separah itu. Aku yakin setiap orang disini merasakan hal yang sama tanpa pernah membuka kata. Di dalam diam, Aku yakin kami saling menyetujui faktanya.

Namun, Aku gila. Atau, sepertinya Aku merasa begitu. Nyatanya, meskipun Aku paham di luar kepala bagaimana semua ini saling berhubungan, tapi Aku dengan sadar berusaha tidak kehilangan harapan.

Setiap menyusuri kota dalam diam, Aku meninggalkan jejak. Di dinding setiap gang yang terlewat, Di gerobak sampah tak terlihat, sampai di mata orang – orang yang mengenal.

Sesekali ketakutan ketika mendengar ledakan. Sesekali masih harus berlarian.

Meskipun begitu, Aku hanya ingin ditemukan. Dan mungkin kalau kota ini mengizinkan, Aku juga mau diselamatkan.

.

3.15 Pagi. Setengah gelas susu dingin habis disudut meja belajar. Gua kebingungan. Beberapa kali memainkan rambut dagu yang tumbuh jarang – jarang.

“Ini sebenarnya Gua nulis apaan sih !?”


Menurut kalian pembaca tanpa nama, ini tulisan tentang apa ?

4.29.2017

Prajurit Salah Paham. #ESAA1


Jendralmu, emosi.
Dengan batas otak yang tidak bersinergi,
Kau lawan akal sehat.

Penting bagimu agar tetap benar.
Peduli setan dengan perasaan.
Berbusa menjelaskan, haus perhatian.

Egomu butuh makan.
Kau minta yang berlebihan.
Sejajar leher, pisaumu, bilamana tidak tertafsir.

Panji berkibar tak terkalahkan
Berkobar mulutmu teriak,
“AKU YANG BENAR !”

Sampai kau tau tinta di balik putihnya
Sampai kau tau suara di belakang heningnya
Sampai kau tau, kau hanya salah paham semata.

.
.
.

Selamat membaca bagian #ESAA. Entah Sajak atau Apa.

Mari berkata, dan sampai jumpa.

4.25.2017

Sesekali. Sesak-kali.


“Kereta dari arah Bekasi tujuan Jakarta Kota, akan segera tiba di jalur 3.”

Seketika, ada yang berlarian. Ada yang mulai merapat ke depan. Ada yang mulai bangun dari tempat duduk. Ada yang stretching sambil memantapkan hati, “Kali ini pasti masuk kereta !”

Oiya itu gua.

Original Photo by Jaybparmar

Jarak dari Bekasi ke Pasar Minggu itu, tidak dekat. Kira – kira, tidak bisa ditempuh dengan hanya berlari – lari kecil, seperti dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah. Minimal, bisa sampai 3 kali ganti unta, lah.

Rasanya kaya pengembara. Mengingat Bekasi yang kondisinya sama seperti Gurun Sahara. Berpasir, Berdebu, Panas Terik, Fatamorgana, dan hal  yang menyangkut gurun pasir lainnya.

Bedanya, di Gurun Sahara tidak ada macet seperti di Bekasi. Ga pernah liat kan, ada penunggang unta berhenti karena penunggang unta di depannya parkir sembarangan ? Bekasi memang kota tertjintah.

Tapi tetap gua tempuh – tempuh juga. Lah mau gimana ? Sayang duitnya. Malah udah Semester 2 sekarang. Tanggung, 6 semester lagi. 8, kalau nanti ditengah jalan males – malesan.

Motor jadi kendaraan utama gua untuk pulang - pergi ke kampus. Selain tidak ada yang jual “Pintu Ke mana Saja”, Motor juga yang paling mudah untuk mensiasati kondisi jalanan Jakarta.

Meskipun pada akhirnya, yang benar – benar harus disiasati adalah waktu keberangkatannya. Karena “Macet”, adalah suatu hal yang abstrak. Makin tahun berganti, makin susah menebak keadannya.

Udah bangun lebih pagi dari satpam kompleks, tapi tiba – tiba ada pekerjaan galian, kan sebel juga.

Tapi beberapa hari lalu, gua dengan sembarang memutuskan untuk naik kereta. Yang setelah bertahun – tahun lamanya, gua selalu memilih motor untuk jadi kendaraan utama. SMP, SMA, Kerja, Kuliah. Yang semuanya di luar Bekasi.

Mungkin karena, gua merasa, akhirnya gua berada pada titik jenuh naik motor. Juga malas menghadapi kondisi jalanan yang itu – itu saja. Dan lagi, seolah – olah pinggang dan punggung gua teriak, “ISTIRAHAT DULU, CUY !” gitu. Diikuti dengan bunyi – bunyi tulang yang berderik.

Dari situ tiba – tiba muncul lah ke-bm-an untuk naik kereta.

Hanya untuk mengetahui dan merasakan bahwa, Kereta arah Bekasi menuju Jakarta Kota, sangatlah beringas. Tidak pandang bulu dan tidak pandang gender. Ketakutan akan “keterlambatan” jadi motivasi buat orang – orang itu untuk masuk ke dalam kereta. Bagaimanapun caranya.

Meski pihak kereta sudah berkali – kali bilang, “Kereta tidak akan berangkat jika pintu tidak bisa  ditutup dengan sempurna.” Tetap saja. Sesusah apapun, asalkan dapat pijakan dan pegangan, menurut mereka nyakitin orang sedikit tidak apalah.

Sampai, Ibu – ibu nyelip di keteknya mas – mas. Mbak – mbak berdiri dengan posisi yang tidak normal. Gue menggunakan paha dan kepala sebagai pengganjal saat kereta berhenti dan bergerak tiba – tiba.

Lalu dengan bodohnya, Gua salah kereta.

Tapi percaya atau tidak, itu semua terasa benar – benar fresh dan menyenangkan.
Gua sama sekali tidak menyesali naik kereta sedikitpun. Meskipun kadar kelelahan dan waktu tempuhnya sama aja kaya naik motor. Bahkan malah ditambah sikut – sikutan dan berebutan, lebih intense daripada naik motor.

Kayaknya sesekali, perlu banget yang seperti itu. Adrenalin dan suasana yang baru.
Karena, untuk melakukan hal yang sama untuk waktu yang lama, sangatlah menjengkelkan. Malah akan berakhir sangat buruk kalau terus – terusan dipaksakan.

Itulah mengapa di dunia ini ada yang namanya liburan. Karena kita manusia, bukan mekanisme yang digerakan secara stagnan.

Menurut gua, kabur, sesekali tidak apa – apa. Kabur disini maksudnya adalah, mencari hal yang beda, demi mensiasati hal - hal yang sama. Contoh, Naik kereta adalah cara kabur gua untuk mengecoh jenuh dan lelahnya naik motor. Sampai nanti, kembali naik motor dengan perasaan yang fun dan tidak menjengkelkan.

Jadi, sesekali pergilah. Sesekali kaburlah.

Mungkin hasilnya tidak seberapa, dan mungkin malah tidak ada perubahan sama sekali. Tapi, pentingnya luar biasa untuk kesehatan mental dan jiwa. Supaya tidak gila sebelum waktunya.

.

Dengan memasang tampang blo’on dan mengerutkan dahi, gua mikir, “Kok rasanya gua ngasih tau hal yang orang – orang udah tau ya ?”

“Eh tapi, siapa tau mereka lupa. Bodolah.”
.
.
.
Dua ibu jari teracung, untuk kalian yang sedang melawan kejenuhan.


Curi – curi waktu sesekali, jangan lupa.

4.08.2017

24 sampai 30 Frame per Second


Bon – Bon adalah rumah kami~

Disana Kami belajar, tumbuh besar~

Bon – Bon Kami datang~

Untuk mencapai cita – cita, bahagiaaa~

Kemudian ada suara om – om, “Kami akan kembali sesaat lagi.”

Original photo from : GOOGLE. Sisanya Gue sendiri.


Asing tidak sama jingle di atas ? Asing tidak dengan yang namanya, “SpaceToon” ? Gua berasumsi, pasti masa kecil kalian amat sangat bahagia jika kalian ingat dengan dua hal yang gua sebutkan tadi.

SpaceToon, surganya animasi. Oasis ditengah padang pasir acara gossip dan berita. Pengecualian untuk sinetron. Karena dulu, meski ga ngerti apa – apa, nonton sinetron adalah waktu terbaik bersama orang tua.

Nikmat duniawi itu, kalau nonton SpaceToon, sehabis pulang sekolah, sambil makan siang. Peduli amat sama mandi. Keringetan, bau matahari, yang penting setel TV, pencet ke SpaceToon.

Gua ingat sekali dengan serial animasi Time Bokan dan Petualangan Hachi si Lebah Madu. Bisa nonton sampai berjam – jam, dan kesel bila diganggu.

Yang kemudian dengan semakin bertambahnya umur, gua menyadari, apa yang dilakukan Hachi sangat berbahaya pada umurnya. Bayangkan di umur segitu, Hachi udah masuk – masuk  hutan, pukul – pukulan sama kumbang tanduk. Gua umur segitu, mau main harus makan sayur dulu baru boleh keluar.

Tapi, Hachi mengajarkan gua bahwa, seorang mama memang pantas untuk diperjuangkan. Bahkan hingga ke ujung dunia. Dan juga membuat gua bersyukur, masa kecil gua tidak serumit dan sekeras Hachi. Hamdallah.

Entah mengapa gua mulai mengingat acara – acara itu sekarang. Mungkin salah satunya karena, jiwa kekanakan dalam diri gua minta dibebasin sebentar. Imbas dari kehidupan gua yang bergerak semakin cepat setiap harinya.

Ujug – ujug­, udah disuruh mikirin masa depan aja. Sabar atuh mak..

Gua rasa, di umur yang dewasa pun, kita masih butuh animasi. Kartun, Anime, dan sebagainya. Animasi itu seperti air segar untuk mata, setelah terus menerus melihat angka dan kata – kata.

Gua jadi kepikiran untuk membuat animasi juga. Yang sederhana aja, sekedar guyon dan santai – santai belaka.

Meskipun gua ga terlalu bisa gambar, tapi gua bisa menyumbang ide cerita. Semacam kerja tim gitu, atau kolaborasi. Kalian jadi Illustratornya, seseorang jadi Animatornya, Gua jadi Storywritternya. Gimana ?

Gua soft-selling gapapa ya. Pokoknya kalau butuh apa – apa, itu bagian paling atas ada pilihan “Sini Contact”. Klik aja. Sip.

Gua mulai kepo – kepo tentang animasi, kartun, dan sebagainya, setelah mengintip profil Instagram dari seorang Ryan Adriandhy. Kalian pasti kenal dia dari serial Malam Minggu Miko, atau Stand up comedy, atau malah sebagai Kartunis sekarang.

Di salah satu video Youtubenya Raditya Dika, Ryan Adriandhy pernah mencontohkan bagaimana sebuah proses pembuatan animasi secara sederhana. Yang ternyata tidak sesederhana yang gua pikirkan.

Pernah denger istilah frame per second ? atau yang disingkat FPS ? Buat lu pada yang sering main game, atau ga asing sama kamera, pasti taulah istilah ini.

Sederhananya, FPS itu jumlah frame gambar yang ditangkap dalam satu detik. Semakin banyak gambar yang ditangkap, maka akan semakin tajam dan terpercaya hasilnya.

Dan ternyata FPS ini juga berlaku di dunia Animasi. 24 – 30 Frame per-second. Berarti ada 24 – 30 gambar dalam satu detik. Nah ngeheknya adalah, kalau pakai kamera kan kita tinggal pencet tombol shutter. Lah kalo di Animasi harus digambar satu – satu !

Segitu banyak gambar, Cuma untuk satu detik. Sekedar sekelibat doang di layar.

Sekarang bayangin film animasi layar lebar seperti Up, Monster .Inc, Finding Nemo, dll, yang durasinya lebih dari satu jam. Berapa banyak gambar, itu Animator bikin !?

Katakanlah Cuma gestur mata yang lagi mengedip. Itu butuh 24 -30an gambar, dari mata kebuka, kelopak ketutup, sampai mata kebuka lagi. Gokil.

Kasian juga ya, untuk sebuah usaha yang memakan waktu lama, tapi hasilnya belum tentu disadari atau engga.

Apasih yang ada di otak para Animator itu ? Kok kuat ya buat gambar segitu banyak ? Mungkin alasannya klise, macam Passion, hobby, dan tetek bengek tentang mimpi kali ya.

Tetap aja 24-30 lembar gambar itu ga sedikit. Apalagi cuma untuk satu detik. Sungguh pemanfaatan waktu yang ga kira – kira.

Gua masang tampang blo’on, sembari otak gua berpikir, “Gila. Satu detik gua, gua pakai buat apa ya ?” Yang kemudian gua sadar, terlalu banyak detik – detik yang gua buang sia – sia.

.
.
.

Kalau hidup itu sebuah Animasi. 1 detik ini lu mau isi dengan apa ?


Inget, 1 detik butuh  24 - 30 kali usaha. Masa iya mau gitu - gitu aja !?

2.28.2017

Pemeran, Penonton, dan Suntik Silikon


Disclaimer : Adanya kata, ‘Suntik Silikon’ di judul tulisan, bukan berarti tulisan ini mengandung informasi tentang jasa operasi plastik, atau cara memperbesar ukuran payudara.

Silahkan beralih ke situs lain yang menyediakan konten begituan. Sip.

Original Photo from PIXABAY

Seorang pemeran dalam sebuah pertunjukan drama, dituntut untuk membuat karakter yang dibawakannya, ‘hidup’. Supaya penonton bisa ikut mendalami cerita, dan tidak mulai gelisah mau pulang. Kecuali rumahnya kebakaran atau burung peliharaannya dimaling orang, ya bolehin lah pulang. Kejam amat.

Pokoknya entah pakai improvisasi atau cara lainnya, penonton tidak boleh sampai merasa jenuh.

Karena biasanya kalau penonton sudah bosan dengan pertunjukan yang dibawakan, mereka pasti mulai cari – cari kesibukan sendiri. Dari main smartphone, gigit kuku jari, isep jempol kaki, kayang, sampai yang paling simple itu ngobrol sama teman di sampingnya.

Jujur saja, gua paling benci sama orang yang mengobrol saat sedang berlangsungnya sebuah pertunjukan drama. Selain mengganggu, rasanya juga barbar dan tidak etis.

Terus juga masalahnya, ini bukan pertandingan sepak bola yang harus dikomentari.

Masa tiba – tiba, “IYAK ! Ken Arok datang menunggang kuda, membawa panah, menuju Ken Dedes, UMPAN CUEK ! JEGERR ! Tertancap sudah di hatinya, sodara – sodara !” Kan bego.

Kalo boleh, mau gua bikinin kopi, ambilin asbak, terus gua gamparin satu – satu. Biar makin banyak bahan obrolannya.

Iya, bisa sekesal itu, karena gua pribadi tau rasanya jadi pemeran dalam suatu pertunjukan drama. Meskipun masih sekedar level, ‘yang penting ambil nilai bahasa inggris’, tapi lumayan serius juga.

Yang ditempuh seorang pemeran itu tidak sebentar. Mulai dari concepting, mind-mapping, simulasi atau latihan, kemudian eksekusi, sampai ke hasil akhirnya nanti. Entah itu dapat tepuk tangan, atau malah dilempar kuaci.

Ditambah latihan berhari – hari. Gagal berkali – kali. Sampai, yang penting apal dialog daripada ingat mandi.

Itu semua yang membuat gua suka, sama yang namanya ‘pertunjukan’. Karena prosesnya. Entah itu musik, drama, stand up comedy, dan lain – lain.

Seorang pemeran juga punya tanggung jawab yang cukup besar. Untuk dirinya sendiri, lawan main, dan penonton yang datang. Kredibilitas sebuah pertunjukan bisa ditentukan dari performa para pemerannya. Meskipun bukan itu doang faktor satu – satunya.

Tidak bisa sampai di atas, kalau belum mulai dari bawah. Untuk mendapatkan peran yang cocok, butuh audisi dan latihan berkali – kali. Agar kemampuannya di akui banyak orang, juga bukan perkara yang mudah.

Terkadang, bukan semua tapi beberapa orang, tidak punya cukup kesabaran untuk merintis secara perlahan. Biasanya mereka – meraka tuh, yang menuhankan ketenaran.

*Sekali lagi, bukan semua tapi beberapa.

Mereka pasti menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Seperti menggunakan ‘Suntik Silikon’ sebagai contohnya.

Sudah sering dengar kan, bagaimana cara orang – orang yang menunjang karirnya lebih tinggi, dengan cara memvermak kecantikan dan ketampanannya sendiri ?

Mereka mengizinkan bentuk tubuhnya di ubah. Mereka me-normalisasi-kan, ‘kepalsuan’. Demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Meskipun, ada benarnya kalau orang – orang bilang, “kalau mau sesuatu, ya harus berkorban.” Tapi bukannya kelewatan ya, kalau mengubah apa yang diberi sama Tuhan ? Kecuali untuk alasan medis dan hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan.

Kasihan, badannya oplosan.

Mereka, pemeran, seperti ‘dikejar target’ sama penonton. Mereka, sampai rela menyuntikan zat kimia kedalam tubuh, demi kepuasan penonton. Meski ada alasan kepuasan sendiri juga, tapi yang jadi dasar awalnya kan orang lain. Kalau tidak ada yang melihat, buang – buang duit doang pakai suntik silikon segala.

Kurang lebih kaya di kehidupan sehari – hari lah. Saat kita butuh untuk, ‘mengubah sesuatu demi sesuatu’.

*

Beberapa minggu yang lalu, gua dan Fista, sesama penulis blog, bergantian memberikan  sebuah topik untuk mengisi tulisan di blog masing – masing.

Gua menantang Fista untuk menuliskan sesuatu tentang cinta/hubungan, karena waktu itu bertepatan dengan minggu – minggu perayaan Valentine. Sedangkan dia, memberikan gua sebuah topik yang cukup sederhana, “menurut lu, ada ga sih orang yang tidak fake ?”. Gitu.

Dan, boi oh boi, entah kenapa gua butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakan tulisan ini. Sungguh sebuah topik sederhana yang ternyata rumit juga.

“Ada ga sih orang yang tidak fake ?”

Jawaban gua pribadi, ada. Tapi, bukan ‘tidak fake’ atau ‘tidak palsu’, melainkan lebih ke, ‘punya karakter sendiri’.

Setuju ga, kalau gua bilang, “Setiap Kita, hanyalah seorang pemeran di dalam panggung orang lain.” ?

Yang artinya, kita cuma sesosok manusia, yang sengaja/tanpa sengaja menjalani kehidupannya sendiri, di kehidupan orang lain.

Sedih ya kalau dipikir – pikir. Bisa jadi kita hanya sekedar aktor saja, tidak ada yang kenal, jadi sekedar bahan tontonan saja. Masih melayang – layang dibatas, penonton suka atau tidak dengan penampilan kita.

Tapi, ada satu hal yang bisa membuat diri kita, noticable. Sama seperti seorang pemeran yang rela suntik silikon, demi mendapatkan peran dan jadi lebih famous.

Kita butuh yang namanya, ‘karakter’.

Bahkan jika sampai harus melakukan sesuatu yang ‘fake’, yang ‘bukan gue banget’.

Kalau demi tidak dibuangnya kita dari kehidupan seseorang. Demi kehadiran kita terlihat oleh seseorang tersebut. Demi seseorang tersebut jadi milik kita sendiri. Sah – sah saja.

Yang penting asik, terus ga ngusik. Gua pribadi sih santai aja. Entah kalau lu pada maunya kaya gimana.

.

*PS : kalau mau lihat tulisan yang dibuat Fista, bisa klik DISINI.

.
.
.

Jadi kalau ada yang ngomong ke kalian, “yang penting, gua ga fake !” sampai muncrat. Ya biar sajalah.

Selama tidak mengganggu. Ya mungkin mereka sedang berusaha menarik perhatianmu, atau sedang dalam usaha mencari jati diri. Gitu.

2.14.2017

Yang Bisa Dilakukan Saat 2.20


Ini teruntuk kalian yang matanya belum bisa terpejam sampai 2.20. Pagi, bukan siang. Formasi waktu yang sudah berkali – kali gua lihat di jam dinding. Dan akhirnya membuat gua terinspirasi untuk membuat tulisan yang tidak ada pentingnya ini. Enjoy.

P.S : Jangan biasakan tidur jam segitu. Nanti jadi candu.

Original Photo by Wu Yi


1.  Berhenti sok sibuk di dunia maya.

Kalau menurut gua pribadi, atau mungkin kebanyakan orang juga, masih terjaga sampai jam segitu, cuma karena masalah bosan semata.

Bolak - balik beberapa aplikasi yang sama, dengan jarak waktu yang tidak jauh dari satu dengan yang lainnya. Satu kali jempol scroll kebawah, bosan, tutup, terus buka yang lain, kemudian balik lagi ke aplikasi yang pertama. Begitu terus sampai mata merah, jempol keringetan, kasur berantakan karena cari posisi yang ena’.

Beruntung untuk kalian, yang punya seseorang untuk diajak bercanda lewat layar kaca sampai jam segitu. Lupa waktu mah, masa bodoh. Yang penting bisa cekikikan sambil guling – gulingan.

Lah, untuk mereka yang sendirian ? mereka yang sedang tidak ada yang mengucapkan, “selamat tidur ya.. :), gimana ? Kesepiannya bikin bosan. Kemudian dilampiaskan dengan mencari hiburan. Daripada sakit hati, mending sakit badan. Ya ga ?

Tapi, point pertama ini memang beneran harus dilakukan. Karena menurut studi (baca: google), radiasi dari smartphone bisa mengganggu kinerja otak, menghambat suatu hormon, sampai akhirnya mengacaukan jam tidur.

Jadi kalau sampai jam 2.20 masih sibuk memantau dunia maya, segera istirahatkan. Selain menyakitkan, juga kasihan. Malu sama mereka yang punya kehidupan dan fokus masa depan.

2. Basuh air ke muka.

Usahakan dengan menggunakan air dingin, bukan air raksa. Sudah 2.20, jangan yang engga – engga.

Lumayan untuk membantu jiwa ber-rileksasi. Terutama yang percobaan tidurnya berujung dengan gelisah. Entah karena panas, atau tidak sengaja teringat luka lama (re: kenangan).

Oh sebelumnya, dilepas dulu topengnya. Topeng yang dipakai sehari – hari untuk mensiasati hidup bermasyarakat. Pasti lelah tidak bisa menjadi diri sendiri, ya kan ? Tidak apa kalau menurut gua, manusiawi. Kita mau orang tau yang baik – baik saja dari diri kita. Selebihnya kubur dalam – dalam, daripada membuat masalah.

Tapi, jangan berusaha terlalu keras. Tidak semua orang harus dilayani dan dipuaskan. Coba belajar memilah keadaan. Ada saatnya topengmu berguna, ada saatnya topengmu hanya bikin kesal semata. Ada yang akan menerimamu dengan topengmu, ada juga yang akan menerimamu dengan segala goresanmu. Jadi, santai saja. *wink

Waduh, lupa. Bukan itu pointnya. Kembali ke basuh muka.

Biar urat – urat yang ketarik seharian, jadi kendor. Biar stress – stress yang tertahan, jadi lega. Biar jiwa, siap tertidur. Dan yang paling penting, Biar kalian siap menyambut orang tersayang di alam mimpi, dengan terlihat seperti terlahir kembali.

3. Kunyah sedikit cemilan.

Ya kalau – kalau lapar. 2.20 kan jam yang rawan. Tapi ingat ya, sedikit saja. Dasar mamalia !

4. Minum segelas air putih.

Ya kalau - kalau cemilannya nyangkut di tenggorokan. Atau ingin suaranya jadi serak – serak basah.

5. Berdamai dengan pikiran.

Ada kalanya hal sepele, tersangkut di kepala, kemudian membuat kita terjaga dengan waktu yang lama. Terus – terusan dikaji tanpa sengaja, sampai tiba – tiba fajar sudah mengintip ujung jendela.

Meskipun padahal, beberapa jam sebelumnya, mata sudah berteriak lelah. Sudah mulai mengatup sedikit – sedikit, bertemu ujung bulu mata atas dengan bawahnya, seperti mengedip tapi lebih berat dan jeda terbukanya lama. Entah mengantuk, atau teler mabok genjer.

Kadang dalam fase – fase kantuk seperti itu, kita bisa dengan gratis bercumbu dengan bahan metal dari casing smartphone sendiri. Terjun bebas dari genggaman tangan, mendarat dengan elegan di atas muka. Membuat kita terkesiap dan kembali berselancar di dunia maya.

Tadi kan sudah mengantuk, tapi jadi segar kembali. Itu semua karena, dengan ajaibnya kita mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dan mungkin tidak pernah ada.

Tapi, “Enak saja !” kata suara di kepala. Kemudian mulai mengungkit ini itu seperti sebuah komputer mencari data. “Yang ini gimana !?, Yang itu apa !?, Nanti kalau begini..!?” Katanya.

Mau tidak mau, mata jadi terjaga. Sembari menunggu otak bekerja. Mau dipejamkan bagaimana juga, tetap saja. Kalau masih mengganjal, ya belum bisa. Makannya ini yang paling bahaya.

Tidak ada cara yang paling benar untuk berdamai dengan pikiran. Setiap orang punya siasat yang berbeda – beda. Tapi ketahuilah, ini tetap harus dilakukan. Jika tidak mau merasa kacau di pagi harinya.

Sebenarnya, apasih masalanya, dengan isi kepala yang meledak - ledak sampai selarut itu ? Apa mungkin karena, pikiran butuh waktu yang tepat, tempat yang nyaman, dan hati yang tenang, untuk mulai mengganggu ? Kurang ajar ya kalau dipikir – pikir.

Ya sudahlah, bisa apa selain dinikmati ? Lagian tidak buruk juga berkabar dengan diri sendiri. Sampai nanti kelar sendiri, semoga belum muncul matahari.

*

Tadi sudah diingatkan di atas, kalau keseringan tidur selarut 2.20, akan jadi candu kedepannya. Bisa berbahaya bagi tubuh, pikiran, dan hati juga.

“Tapi ko, sakit setengah – setengah, mending sekalian.” Ya terserah.

.
.
.

Selamat terpejam mata yang mulai lelah terjaga.Selamat menikmati 2.20, bagi yang jiwanya masih merana.

2.03.2017

Tutorial Jadi Pengangguran



1. Jangan.
2. Beneran deh, pikir lagi.
3. Mana ada sih orang yang cita - citanya jadi pengangguran !?
4. Cari uang susah.
5. Cari kerja susah.
6. Eh, Kalau susah terus, kapan bisanya !?
7. Yaudah, mending dicoba dulu kali 
8. Tapi harus yakin dulu sebelumnya.
9. Kalau ga punya keyakinan, gimana mau disiplin nantinya !
10. Nah, yang pertama.. 
11. Kembali ke no. 1
12. Sekian.

Terimakasih sudah menghabiskan 30 detik dari waktu kalian yang berharga. *wink

Original photo from Pixabay


Pada tahun 2016 yang lalu, Pengangguran yang tercatat di Indonesia mencapai angka 7 Juta orang. Banyak ya ? itu semua orang, bukan gundu. Kira – kira, adakah diri kalian di antara 7 juta orang tersebut ? Kalau gua sih, hehe.

Setelah keluar kerja September tahun lalu, dompet gua jadi sering batuk – batuk. Kehidupan mahasiswa ternyata tidak seindah yang gua bayangkan. Rasanya seperti kehabisan air di tengah gurun sahara. Hidup sih masih, jalannya aja yang susah.

Dulu waktu punya uang sendiri, gua berasa jadi orang paling hedon sejagat. Diajak jalan kemana aja, hayuk. Makan dimana aja, jadi terus. Buang – buang duit melulu macam tuan takur.

Apalagi, jadi kecanduan belanja online juga. Lirik barang, tinggal pesan. Harga item sekitaran 100 ribu kebawah, ga perlu mikir sampai 3 kali. Paling 2.5 kali, tapi ya, tetep aja ga pakai lama. Sekarang mah, buka aplikasi belanja online aja, gua pilek.

Tapi kalau dipikir – pikir, segala macam bentuk diskon atau promo itu, setan juga ya. Tau aja kalau kantong celana lagi puasa sunnahGodaannya banyak banget. Mau batal, Mau jajan, tapi bayar pake apaan !? pake amal !? Emang Ramay*na, panitia zakat !?

“Misi mbak, mau bayar”

“Debit apa cash mas ?”

“Amal Jariyah, bisa mbak ?”

“Bisa mas, sekarang ikutin saya ya. Audzubilah..”

Bodo.

Makannya, yang  namanya nabung itu jadi penting banget. Kenapa ? coba saja anggap tabungan itu, sebagai sebuah sekoci. Kalau dompet kalian karam sebelum awal bulan, tabungan kalian lah yang akan menyelamatkan hidup kedepannya.

Bayangin kalau uangnya udah habis duluan buat beli baju atau sneaker adid*s ‘ori’ Banjir Kanal Timur. Tanggal tua, bisa – bisa cuma ngemut tali sepatu pake Bon Cabe level 15 di pojokan.

Nabung itu lebih penting, daripada ‘niat-buat-nabung’nya. Bisa gitu ya ? Kegiatannya lebih penting daripada niatnya. Tapi, hal ini nyatanya beneran.

Niatnya doang mantep, tapi dilakukan juga engga. Setiap dapet uang, pasti langsung niat buat nabung. Baru niat. Lalu, magically, pas akhir bulan tinggal kapiten pattimura semua di dompet. Miris.

Proses menabungnya berhenti di tahap nawaitu.

Karena itu, banyak juga yang bilang, kalau mau nabung, ya harus dilakuin dari awal. Misal, dapat gaji atau uang bulanan, langsung pangkas beberapa buat nabung. Jadi, tidak mengandalkan receh – receh sisa belanja.

Selain kekumpulnya lama, hasilnya juga tidak seberapa. Mirip seperti, kamu sudah berusaha sampai mau mati buat dapat perhatian dia, tapi dia cuma anggap kamu teman yang baik kalau ada maunya aja. Tsadest kan ? Gitu kalau kata anak – anak kekinian.

*

Jadi pengangguran itu bukan salah siapa – siapa. Maksudnya, salah orang lain, iya. Salah diri sendiri, juga iya. Banyak faktornya. Misalnya, kalian dipecat dari kantor karena kesalahan orang lain. Atau, kalian emang sengaja bikin masalah, dengan alasan menguji boss kalian perhatian apa engga. Eh. Itu mah, goblok deh.

Yang bilang nganggur itu nasib, juga ada benarnya. Karena cara Yang Maha Kuasa mengatur rezeki itu, misterius sedemikian rupa. Laknat rasanya, kalau coba – coba maksa, bahkan ga percaya.

Tapi, bukan berarti jadi pengangguran, kita bisa bertindak seenaknya. Kalau emang ada pengangguran yang songong, deketin, tarik kupingnya, bisikin, “Nyadar anying!”.

Apalagi kalau sampai ada pengangguran yang iri terhadap sesama. Sesama pengangguran, maksudnya. Kan ironis ya ? Yang jadi alasan buat iri apa ? Waktu tidur siangnya lebih panjang daripada waktu tidur siangmu ? Atau nganggurnya lebih stylish daripada cara nganggurmu ? Pembodohan itu namanya.

Juga bukan berarti boleh iri sama yang udah stabil pemasukannya. Mereka hoki, lu kaga. Eh. Maksudnya mereka kerja keras buat dapet pekerjaannya.

Datang interview sana – sini, Bolak – balik warnet buat cetak CV, ke fuj*film setiap seminggu sekali. Akan menang orang yang berusaha, daripada mereka yang gigit jari dari kejauhan.

Kompetisi itu manusiawi, asal tidak sikut – sikutan. Apalagi sampai santet – santetan. Percuma. Kasihan djinnya juga punya kehidupan.

Jadi, jadilah pengangguran yang berwawasan tinggi dan terdidik. Agar tidak perlu sampai menyusahkan hidup orang lain.

.
.
.

Selamat menganggur~

Jangan lupa cari kerja. Atau beli koran Pos Kota setiap hari sabtu. Di bagian ‘Karier’ biasanya banyak lowongan kerja. Anjir, tau gua ya.