2.28.2017

Pemeran, Penonton, dan Suntik Silikon


Disclaimer : Adanya kata, ‘Suntik Silikon’ di judul tulisan, bukan berarti tulisan ini mengandung informasi tentang jasa operasi plastik, atau cara memperbesar ukuran payudara.

Silahkan beralih ke situs lain yang menyediakan konten begituan. Sip.

Original Photo from PIXABAY

Seorang pemeran dalam sebuah pertunjukan drama, dituntut untuk membuat karakter yang dibawakannya, ‘hidup’. Supaya penonton bisa ikut mendalami cerita, dan tidak mulai gelisah mau pulang. Kecuali rumahnya kebakaran atau burung peliharaannya dimaling orang, ya bolehin lah pulang. Kejam amat.

Pokoknya entah pakai improvisasi atau cara lainnya, penonton tidak boleh sampai merasa jenuh.

Karena biasanya kalau penonton sudah bosan dengan pertunjukan yang dibawakan, mereka pasti mulai cari – cari kesibukan sendiri. Dari main smartphone, gigit kuku jari, isep jempol kaki, kayang, sampai yang paling simple itu ngobrol sama teman di sampingnya.

Jujur saja, gua paling benci sama orang yang mengobrol saat sedang berlangsungnya sebuah pertunjukan drama. Selain mengganggu, rasanya juga barbar dan tidak etis.

Terus juga masalahnya, ini bukan pertandingan sepak bola yang harus dikomentari.

Masa tiba – tiba, “IYAK ! Ken Arok datang menunggang kuda, membawa panah, menuju Ken Dedes, UMPAN CUEK ! JEGERR ! Tertancap sudah di hatinya, sodara – sodara !” Kan bego.

Kalo boleh, mau gua bikinin kopi, ambilin asbak, terus gua gamparin satu – satu. Biar makin banyak bahan obrolannya.

Iya, bisa sekesal itu, karena gua pribadi tau rasanya jadi pemeran dalam suatu pertunjukan drama. Meskipun masih sekedar level, ‘yang penting ambil nilai bahasa inggris’, tapi lumayan serius juga.

Yang ditempuh seorang pemeran itu tidak sebentar. Mulai dari concepting, mind-mapping, simulasi atau latihan, kemudian eksekusi, sampai ke hasil akhirnya nanti. Entah itu dapat tepuk tangan, atau malah dilempar kuaci.

Ditambah latihan berhari – hari. Gagal berkali – kali. Sampai, yang penting apal dialog daripada ingat mandi.

Itu semua yang membuat gua suka, sama yang namanya ‘pertunjukan’. Karena prosesnya. Entah itu musik, drama, stand up comedy, dan lain – lain.

Seorang pemeran juga punya tanggung jawab yang cukup besar. Untuk dirinya sendiri, lawan main, dan penonton yang datang. Kredibilitas sebuah pertunjukan bisa ditentukan dari performa para pemerannya. Meskipun bukan itu doang faktor satu – satunya.

Tidak bisa sampai di atas, kalau belum mulai dari bawah. Untuk mendapatkan peran yang cocok, butuh audisi dan latihan berkali – kali. Agar kemampuannya di akui banyak orang, juga bukan perkara yang mudah.

Terkadang, bukan semua tapi beberapa orang, tidak punya cukup kesabaran untuk merintis secara perlahan. Biasanya mereka – meraka tuh, yang menuhankan ketenaran.

*Sekali lagi, bukan semua tapi beberapa.

Mereka pasti menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Seperti menggunakan ‘Suntik Silikon’ sebagai contohnya.

Sudah sering dengar kan, bagaimana cara orang – orang yang menunjang karirnya lebih tinggi, dengan cara memvermak kecantikan dan ketampanannya sendiri ?

Mereka mengizinkan bentuk tubuhnya di ubah. Mereka me-normalisasi-kan, ‘kepalsuan’. Demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Meskipun, ada benarnya kalau orang – orang bilang, “kalau mau sesuatu, ya harus berkorban.” Tapi bukannya kelewatan ya, kalau mengubah apa yang diberi sama Tuhan ? Kecuali untuk alasan medis dan hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan.

Kasihan, badannya oplosan.

Mereka, pemeran, seperti ‘dikejar target’ sama penonton. Mereka, sampai rela menyuntikan zat kimia kedalam tubuh, demi kepuasan penonton. Meski ada alasan kepuasan sendiri juga, tapi yang jadi dasar awalnya kan orang lain. Kalau tidak ada yang melihat, buang – buang duit doang pakai suntik silikon segala.

Kurang lebih kaya di kehidupan sehari – hari lah. Saat kita butuh untuk, ‘mengubah sesuatu demi sesuatu’.

*

Beberapa minggu yang lalu, gua dan Fista, sesama penulis blog, bergantian memberikan  sebuah topik untuk mengisi tulisan di blog masing – masing.

Gua menantang Fista untuk menuliskan sesuatu tentang cinta/hubungan, karena waktu itu bertepatan dengan minggu – minggu perayaan Valentine. Sedangkan dia, memberikan gua sebuah topik yang cukup sederhana, “menurut lu, ada ga sih orang yang tidak fake ?”. Gitu.

Dan, boi oh boi, entah kenapa gua butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakan tulisan ini. Sungguh sebuah topik sederhana yang ternyata rumit juga.

“Ada ga sih orang yang tidak fake ?”

Jawaban gua pribadi, ada. Tapi, bukan ‘tidak fake’ atau ‘tidak palsu’, melainkan lebih ke, ‘punya karakter sendiri’.

Setuju ga, kalau gua bilang, “Setiap Kita, hanyalah seorang pemeran di dalam panggung orang lain.” ?

Yang artinya, kita cuma sesosok manusia, yang sengaja/tanpa sengaja menjalani kehidupannya sendiri, di kehidupan orang lain.

Sedih ya kalau dipikir – pikir. Bisa jadi kita hanya sekedar aktor saja, tidak ada yang kenal, jadi sekedar bahan tontonan saja. Masih melayang – layang dibatas, penonton suka atau tidak dengan penampilan kita.

Tapi, ada satu hal yang bisa membuat diri kita, noticable. Sama seperti seorang pemeran yang rela suntik silikon, demi mendapatkan peran dan jadi lebih famous.

Kita butuh yang namanya, ‘karakter’.

Bahkan jika sampai harus melakukan sesuatu yang ‘fake’, yang ‘bukan gue banget’.

Kalau demi tidak dibuangnya kita dari kehidupan seseorang. Demi kehadiran kita terlihat oleh seseorang tersebut. Demi seseorang tersebut jadi milik kita sendiri. Sah – sah saja.

Yang penting asik, terus ga ngusik. Gua pribadi sih santai aja. Entah kalau lu pada maunya kaya gimana.

.

*PS : kalau mau lihat tulisan yang dibuat Fista, bisa klik DISINI.

.
.
.

Jadi kalau ada yang ngomong ke kalian, “yang penting, gua ga fake !” sampai muncrat. Ya biar sajalah.

Selama tidak mengganggu. Ya mungkin mereka sedang berusaha menarik perhatianmu, atau sedang dalam usaha mencari jati diri. Gitu.

2.14.2017

Yang Bisa Dilakukan Saat 2.20


Ini teruntuk kalian yang matanya belum bisa terpejam sampai 2.20. Pagi, bukan siang. Formasi waktu yang sudah berkali – kali gua lihat di jam dinding. Dan akhirnya membuat gua terinspirasi untuk membuat tulisan yang tidak ada pentingnya ini. Enjoy.

P.S : Jangan biasakan tidur jam segitu. Nanti jadi candu.

Original Photo by Wu Yi


1.  Berhenti sok sibuk di dunia maya.

Kalau menurut gua pribadi, atau mungkin kebanyakan orang juga, masih terjaga sampai jam segitu, cuma karena masalah bosan semata.

Bolak - balik beberapa aplikasi yang sama, dengan jarak waktu yang tidak jauh dari satu dengan yang lainnya. Satu kali jempol scroll kebawah, bosan, tutup, terus buka yang lain, kemudian balik lagi ke aplikasi yang pertama. Begitu terus sampai mata merah, jempol keringetan, kasur berantakan karena cari posisi yang ena’.

Beruntung untuk kalian, yang punya seseorang untuk diajak bercanda lewat layar kaca sampai jam segitu. Lupa waktu mah, masa bodoh. Yang penting bisa cekikikan sambil guling – gulingan.

Lah, untuk mereka yang sendirian ? mereka yang sedang tidak ada yang mengucapkan, “selamat tidur ya.. :), gimana ? Kesepiannya bikin bosan. Kemudian dilampiaskan dengan mencari hiburan. Daripada sakit hati, mending sakit badan. Ya ga ?

Tapi, point pertama ini memang beneran harus dilakukan. Karena menurut studi (baca: google), radiasi dari smartphone bisa mengganggu kinerja otak, menghambat suatu hormon, sampai akhirnya mengacaukan jam tidur.

Jadi kalau sampai jam 2.20 masih sibuk memantau dunia maya, segera istirahatkan. Selain menyakitkan, juga kasihan. Malu sama mereka yang punya kehidupan dan fokus masa depan.

2. Basuh air ke muka.

Usahakan dengan menggunakan air dingin, bukan air raksa. Sudah 2.20, jangan yang engga – engga.

Lumayan untuk membantu jiwa ber-rileksasi. Terutama yang percobaan tidurnya berujung dengan gelisah. Entah karena panas, atau tidak sengaja teringat luka lama (re: kenangan).

Oh sebelumnya, dilepas dulu topengnya. Topeng yang dipakai sehari – hari untuk mensiasati hidup bermasyarakat. Pasti lelah tidak bisa menjadi diri sendiri, ya kan ? Tidak apa kalau menurut gua, manusiawi. Kita mau orang tau yang baik – baik saja dari diri kita. Selebihnya kubur dalam – dalam, daripada membuat masalah.

Tapi, jangan berusaha terlalu keras. Tidak semua orang harus dilayani dan dipuaskan. Coba belajar memilah keadaan. Ada saatnya topengmu berguna, ada saatnya topengmu hanya bikin kesal semata. Ada yang akan menerimamu dengan topengmu, ada juga yang akan menerimamu dengan segala goresanmu. Jadi, santai saja. *wink

Waduh, lupa. Bukan itu pointnya. Kembali ke basuh muka.

Biar urat – urat yang ketarik seharian, jadi kendor. Biar stress – stress yang tertahan, jadi lega. Biar jiwa, siap tertidur. Dan yang paling penting, Biar kalian siap menyambut orang tersayang di alam mimpi, dengan terlihat seperti terlahir kembali.

3. Kunyah sedikit cemilan.

Ya kalau – kalau lapar. 2.20 kan jam yang rawan. Tapi ingat ya, sedikit saja. Dasar mamalia !

4. Minum segelas air putih.

Ya kalau - kalau cemilannya nyangkut di tenggorokan. Atau ingin suaranya jadi serak – serak basah.

5. Berdamai dengan pikiran.

Ada kalanya hal sepele, tersangkut di kepala, kemudian membuat kita terjaga dengan waktu yang lama. Terus – terusan dikaji tanpa sengaja, sampai tiba – tiba fajar sudah mengintip ujung jendela.

Meskipun padahal, beberapa jam sebelumnya, mata sudah berteriak lelah. Sudah mulai mengatup sedikit – sedikit, bertemu ujung bulu mata atas dengan bawahnya, seperti mengedip tapi lebih berat dan jeda terbukanya lama. Entah mengantuk, atau teler mabok genjer.

Kadang dalam fase – fase kantuk seperti itu, kita bisa dengan gratis bercumbu dengan bahan metal dari casing smartphone sendiri. Terjun bebas dari genggaman tangan, mendarat dengan elegan di atas muka. Membuat kita terkesiap dan kembali berselancar di dunia maya.

Tadi kan sudah mengantuk, tapi jadi segar kembali. Itu semua karena, dengan ajaibnya kita mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dan mungkin tidak pernah ada.

Tapi, “Enak saja !” kata suara di kepala. Kemudian mulai mengungkit ini itu seperti sebuah komputer mencari data. “Yang ini gimana !?, Yang itu apa !?, Nanti kalau begini..!?” Katanya.

Mau tidak mau, mata jadi terjaga. Sembari menunggu otak bekerja. Mau dipejamkan bagaimana juga, tetap saja. Kalau masih mengganjal, ya belum bisa. Makannya ini yang paling bahaya.

Tidak ada cara yang paling benar untuk berdamai dengan pikiran. Setiap orang punya siasat yang berbeda – beda. Tapi ketahuilah, ini tetap harus dilakukan. Jika tidak mau merasa kacau di pagi harinya.

Sebenarnya, apasih masalanya, dengan isi kepala yang meledak - ledak sampai selarut itu ? Apa mungkin karena, pikiran butuh waktu yang tepat, tempat yang nyaman, dan hati yang tenang, untuk mulai mengganggu ? Kurang ajar ya kalau dipikir – pikir.

Ya sudahlah, bisa apa selain dinikmati ? Lagian tidak buruk juga berkabar dengan diri sendiri. Sampai nanti kelar sendiri, semoga belum muncul matahari.

*

Tadi sudah diingatkan di atas, kalau keseringan tidur selarut 2.20, akan jadi candu kedepannya. Bisa berbahaya bagi tubuh, pikiran, dan hati juga.

“Tapi ko, sakit setengah – setengah, mending sekalian.” Ya terserah.

.
.
.

Selamat terpejam mata yang mulai lelah terjaga.Selamat menikmati 2.20, bagi yang jiwanya masih merana.

2.03.2017

Tutorial Jadi Pengangguran



1. Jangan.
2. Beneran deh, pikir lagi.
3. Mana ada sih orang yang cita - citanya jadi pengangguran !?
4. Cari uang susah.
5. Cari kerja susah.
6. Eh, Kalau susah terus, kapan bisanya !?
7. Yaudah, mending dicoba dulu kali 
8. Tapi harus yakin dulu sebelumnya.
9. Kalau ga punya keyakinan, gimana mau disiplin nantinya !
10. Nah, yang pertama.. 
11. Kembali ke no. 1
12. Sekian.

Terimakasih sudah menghabiskan 30 detik dari waktu kalian yang berharga. *wink

Original photo from Pixabay


Pada tahun 2016 yang lalu, Pengangguran yang tercatat di Indonesia mencapai angka 7 Juta orang. Banyak ya ? itu semua orang, bukan gundu. Kira – kira, adakah diri kalian di antara 7 juta orang tersebut ? Kalau gua sih, hehe.

Setelah keluar kerja September tahun lalu, dompet gua jadi sering batuk – batuk. Kehidupan mahasiswa ternyata tidak seindah yang gua bayangkan. Rasanya seperti kehabisan air di tengah gurun sahara. Hidup sih masih, jalannya aja yang susah.

Dulu waktu punya uang sendiri, gua berasa jadi orang paling hedon sejagat. Diajak jalan kemana aja, hayuk. Makan dimana aja, jadi terus. Buang – buang duit melulu macam tuan takur.

Apalagi, jadi kecanduan belanja online juga. Lirik barang, tinggal pesan. Harga item sekitaran 100 ribu kebawah, ga perlu mikir sampai 3 kali. Paling 2.5 kali, tapi ya, tetep aja ga pakai lama. Sekarang mah, buka aplikasi belanja online aja, gua pilek.

Tapi kalau dipikir – pikir, segala macam bentuk diskon atau promo itu, setan juga ya. Tau aja kalau kantong celana lagi puasa sunnahGodaannya banyak banget. Mau batal, Mau jajan, tapi bayar pake apaan !? pake amal !? Emang Ramay*na, panitia zakat !?

“Misi mbak, mau bayar”

“Debit apa cash mas ?”

“Amal Jariyah, bisa mbak ?”

“Bisa mas, sekarang ikutin saya ya. Audzubilah..”

Bodo.

Makannya, yang  namanya nabung itu jadi penting banget. Kenapa ? coba saja anggap tabungan itu, sebagai sebuah sekoci. Kalau dompet kalian karam sebelum awal bulan, tabungan kalian lah yang akan menyelamatkan hidup kedepannya.

Bayangin kalau uangnya udah habis duluan buat beli baju atau sneaker adid*s ‘ori’ Banjir Kanal Timur. Tanggal tua, bisa – bisa cuma ngemut tali sepatu pake Bon Cabe level 15 di pojokan.

Nabung itu lebih penting, daripada ‘niat-buat-nabung’nya. Bisa gitu ya ? Kegiatannya lebih penting daripada niatnya. Tapi, hal ini nyatanya beneran.

Niatnya doang mantep, tapi dilakukan juga engga. Setiap dapet uang, pasti langsung niat buat nabung. Baru niat. Lalu, magically, pas akhir bulan tinggal kapiten pattimura semua di dompet. Miris.

Proses menabungnya berhenti di tahap nawaitu.

Karena itu, banyak juga yang bilang, kalau mau nabung, ya harus dilakuin dari awal. Misal, dapat gaji atau uang bulanan, langsung pangkas beberapa buat nabung. Jadi, tidak mengandalkan receh – receh sisa belanja.

Selain kekumpulnya lama, hasilnya juga tidak seberapa. Mirip seperti, kamu sudah berusaha sampai mau mati buat dapat perhatian dia, tapi dia cuma anggap kamu teman yang baik kalau ada maunya aja. Tsadest kan ? Gitu kalau kata anak – anak kekinian.

*

Jadi pengangguran itu bukan salah siapa – siapa. Maksudnya, salah orang lain, iya. Salah diri sendiri, juga iya. Banyak faktornya. Misalnya, kalian dipecat dari kantor karena kesalahan orang lain. Atau, kalian emang sengaja bikin masalah, dengan alasan menguji boss kalian perhatian apa engga. Eh. Itu mah, goblok deh.

Yang bilang nganggur itu nasib, juga ada benarnya. Karena cara Yang Maha Kuasa mengatur rezeki itu, misterius sedemikian rupa. Laknat rasanya, kalau coba – coba maksa, bahkan ga percaya.

Tapi, bukan berarti jadi pengangguran, kita bisa bertindak seenaknya. Kalau emang ada pengangguran yang songong, deketin, tarik kupingnya, bisikin, “Nyadar anying!”.

Apalagi kalau sampai ada pengangguran yang iri terhadap sesama. Sesama pengangguran, maksudnya. Kan ironis ya ? Yang jadi alasan buat iri apa ? Waktu tidur siangnya lebih panjang daripada waktu tidur siangmu ? Atau nganggurnya lebih stylish daripada cara nganggurmu ? Pembodohan itu namanya.

Juga bukan berarti boleh iri sama yang udah stabil pemasukannya. Mereka hoki, lu kaga. Eh. Maksudnya mereka kerja keras buat dapet pekerjaannya.

Datang interview sana – sini, Bolak – balik warnet buat cetak CV, ke fuj*film setiap seminggu sekali. Akan menang orang yang berusaha, daripada mereka yang gigit jari dari kejauhan.

Kompetisi itu manusiawi, asal tidak sikut – sikutan. Apalagi sampai santet – santetan. Percuma. Kasihan djinnya juga punya kehidupan.

Jadi, jadilah pengangguran yang berwawasan tinggi dan terdidik. Agar tidak perlu sampai menyusahkan hidup orang lain.

.
.
.

Selamat menganggur~

Jangan lupa cari kerja. Atau beli koran Pos Kota setiap hari sabtu. Di bagian ‘Karier’ biasanya banyak lowongan kerja. Anjir, tau gua ya.

1.27.2017

Selesaikan Januari


Masa tenggang bulan Januari, sudah bisa dihitung menggunakan jari. Sampai nanti Tuhan sebagai Providernya, menutup Januari, mengganti Februari. Cepat ya. Rasanya tidak terasa. Seperti baru beli kuota 2 Giga, tapi esok pagi tinggal 4 Mega. Kan Tahik.

Lalu dengan begonya bilang, “Perasaan ga download apa – apa deh..” Eh setelah di check, aplikasi ketok mejik muka dan aplikasi pamer kehidupan sosialita, pembaharuan semua. Mampus sia !

Original Photo by Sandi Shelvigs


Januari selalu menjadi awal bagi Sebuah Tahun. Ibarat sebuah acara Stand Up Comedy, Januari merupakan seorang opener/pembuka, yang merenyahkan tawa penonton sebelum Guest Starnya tampil di atas panggung. Bisa dibilang, Januari itu kemungkinan jadi penentu dari jalannya sebuah tahun.

Kalau boleh gua menjuri, Januari kali ini tampil dengan performa yang kurang maksimal. Satu dua kali, gua masih mendapat tawa. Sisanya, hampir ‘kentang’ semua. Boro – boro bisa ketawa, sakit hati malah iya.

Rasanya ada sesuatu yang membuat bulan Januari ini, tidak dapat “kompor gas !” kalau kata Pakde Indro Warkop. Apa ya ? Mungkin, bulan Januarinya demam panggung, atau memang guanya aja yang lagi lengah.

Buktinya bisa dilihat dari tulisan – tulisan sebelumnya. Entah kenapa jadi suka nulis hal – hal dengan topik yang berat. Beton, misalnya. Eh.

Maksudnya, topik yang bukan hanya berat untuk pikiran, tapi juga berat untuk hati. Seperti, sok – sok’an coba membahas kehidupan. Padahal hidup sehari – hari aja masih remed.

Tapi, kalau boleh membela diri, niat awalnya kan cuma ingin berbagi, tidak menggurui. Pasti ada salah, ada benarnya. Makasih banyak loh, yang udah baca. Maaf juga buat yang kena clickbait, kemudian mengharapkan tulisan – tulisan yang luar biasa. Nanti pasti ada ko, tulisan – tulisan yang meninggalkan bekas di pikiran dan hati kalian, para pembaca.

*

Bicara tentang Januari, bulan ini merupakan bulan yang tepat untuk mencoba test drive dari “Resolusi Awal Tahun” yang sudah dirancang sedemikian rupa. Yang awal tahun kemarin, kalian ‘gembar -  gembor’ kan,  kaya prajurit saat perang gerilya.

Gimana ? Sudah gagal berapa kali ? Sudah mati berapa kali ? Semoga masih tetap ‘keras kepala’ dengan janji – janji untuk membahagiakan diri sendiri.

Janji – janji seperti, “Mau kurus !” atau, “Mau punya pacar !” atau, “Mau punya duit yang banyak !” serta janji lain – lainnya.

Di salah satu video YouTubenya, Ryan Higa bilang, “STOP BULLSH*TTING YOURSELF !” atau dalam bahasa Indonesia artinya, “Berhenti mainan tahi kebo !” Eh. Salah. Arti yang sebenarnya itu, berhenti mengatakan omong kosong kepada diri sendiri. Gitu lah.

Statement tersebut benar, sebenar - benarnya. Rasanya kaya di tampar tepat di pipi, pas lagi asik – asiknya bengong. Membuat gua bangun, dan kembali ke dunia nyata. Padahal mimpinya udah sampai setinggi langit tadi. Sampai sempat ngiler segala.

Hayo ngaku, sudah berapa kali kita menghasut diri sendiri dengan mengatakan omong kosong ? Sampai – sampai bisa muncul ilusi, bahkan fatamorgana untuk diri sendiri.

“Aku janji mau begini.” ; “Aku janji mau begitu.” Dari yang terkecil, sampai yang terbesar. Sudah berapa kali kalian menyakiti diri sendiri ?

Kalau dipikir lagi, jahat juga ya sama diri sendiri. Rasanya kaya ‘ngibulin’ bocah sekolah dasar. Disuruh itu mau, disuruh ini juga mau. Dengan iming – iming receh, seperti ‘bahagia’. Benar – benar bocah SD yang bermasalah.

Jangan kaget kalau, ‘sakit hati’ jadi hal yang wajar. Yang akan selalu kita terima, jika masih memberi omong kosong kepada diri sendiri. Mengingat kebiasaan manusia yang suka bermimpi.

Biasanya, sehabis bermimpi, pasti berjanji. Kalau tidak ditepati, jadi omong kosong lagi. Begitu terus, sampai sekarat nanti. Makannya, kalau mau berjanji santai aja. Kalau mau bermimpi, ya secukupnya aja.

*

Januari akan berakhir beberapa hari lagi. Buat gua, Januari tidak seharusnya berakhir seperti ini. Masih banyak ruang kosong untuk berimprovisasi. Tapi karena durasinya tinggal sedikit lagi, jadi,ya sudahlah. Januari ya, Januari.

Januari adalah yang pertama dalam urutan dua belas bulan. Bisa dibilang, seperti anak pertama dari dua belas bersaudara. Januari jadi yang paling tua. Jadi yang pertama untuk merasakan segalanya. Jadi yang pertama untuk tau rasanya sakit, juga jadi yang pertama untuk belajar caranya sembuh.

Tapi, meskipun jadi yang pertama dalam segalanya, Januari belum boleh dibilang jadi penentu untuk hidup kedepannya. Bisa saja, untuk sebagian orang, awal yang baik ada di bulan – bulan berikutnya.

Jadi boleh – boleh saja kan, kalau sedikit menghakimi bulan Januari. Sedikit saja, tidak  banyak – banyak ko. Sebentar lagi juga selesai.

.
.
.

Ayo Januari, sedikit lagi. Lain kali jangan seperti ini.

Toss dulu dong biar ga slek !

1.16.2017

Seiring Dengan Salah Arah


Hidup, kadang misleading. Apa yang kita anggap gitu, ga taunya anu. Sumpah, Ambigu. Kira – kira, sudah berapa kali ya kita memutuskan suatu hal yang seharusnya benar, tapi ternyata salah ? begitu juga sebaliknya ? Nah loh. Jangan – jangan, jangan – jingin nih.

Original Photo by Garret Sears


Mengambil keputusan itu, kaya main quiz di sebuah acara TV. Untung – untungan. Kita ga bakal tau, tirai nomor berapa yang di dalamya berhadiah Mobil Alphard, dan tirai mana yang di dalamnya malah banyak zonk.

Kalau keputusan yang diambil benar, sorak - sorai penonton yang akan mengiringi langkah kita selanjutnya. Kalau keputusan yang diambil salah, hanya suara tawa yang akan terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Sedikit mirip dengan ‘mereka’, yang ada di kehidupan sehari – hari. Yang mengakunya peduli dengan satu sama lain.

Tapi, mau ga mau tetap harus ambil keputusan, kan ? Karena apapun masalahnya, ga bisa dibiarin ngambang begitu saja.

Seperti Koboi yang sedang ber-duel satu lawan satu dengan musuh bebuyutannya. Tegang. Kalau ga memutuskan untuk menarik pelatuk, ya harus terima pulang dengan lubang di kepala.

Apalagi waktu yang ada terbatas. Memangnya hidup bisa diacungkan dua ibu jari sambil teriak “tepan!”, seperti saat main petak umpet ? Berhenti dulu, ambil nafas sebentar ? Yang benar saja.

Waktu berlalu, hari berganti. Tidak ada yang tetap tinggal pada tempatnya.

Secara teknis, kalau kita ga suka dengan hasil akhirnya, kita ga bisa menyalahkan siapa – siapa. Karena, ga ada satupun orang yang tau mana yang benar, mana yang salah.

Meskipun sebelum membuat keputusan, di dalam hati kita bisa menimbang – nimbang mana yang benar, mana  yang salah. Seperti, “Gua yakin nih, yang ini yang bener.” atau “Ah, kayaknya yang ini salah deh.”

Tetap saja pada akhirnya, kita seperti berlayar tanpa kompas. Buta arah. Hanya bisa menggenggam kedua tangan, menggantung harap pada hasil yang tak tentu.

Berharap, mungkin bisa jadi solusinya. Minimal hati merasa nyaman, sampai akhirnya tiba. Berharap terus, sampai jatah ‘harapan’ kita habis. Sungguh wajar dan manusiawi. Manusia dengan ilusinya terhadap akhir yang bahagia. Siapa yang tidak mau akhir yang bahagia ? Gua pun juga.

Tapi, ada satu lagi solusi yang menurut gua, paling logis. Yaitu, ‘Bersiap’.

Apapun hasilnya, bersiap. Logis, kan ? daripada menggantung harapan pada sesuatu yang abu – abu ? Mending cari jalan keluar lain jika hasilnya berbeda dengan yang kita inginkan.

Sebuah solusi yang Logis, sekaligus munafik.

Kenapa ? Karena mana ada manusia yang tidak punya rasa takut. ‘Takut’ itu, reaksi ilmiah dari tubuh manusia. Jika tubuh kita masih berfungsi dengan normal, seharusnya kita masih bisa merasa ‘takut’. Kalau ga takut, ga mungkin bisa berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan.

Lalu lebih baik mana, bersiap atau berharap ? Jawabannya boleh disimpan sendiri – sendiri.

Salah mengambil keputusan, rasanya seperti salah arah. Bikin sebal hati karena, seharusnya ini adalah jalur yang benar. Apalagi, yang namanya ‘waktu’ itu, relatif. Bisa berjalan lambat, bisa tiba – tiba terasa cepat.

Tapi kan, nanti bisa putar balik ? Bisa saja. Apa jadi lebih baik ? Tidak juga. Terkadang salah arah, masih bisa mengarahkan kita ke tujuan akhir. Hanya jalur yang dilewatinya saja yang berbeda.

Yang paling seru adalah, salah arah bisa membuka arah lain yang baru. Yang belum pernah kita jelajahi sebelumnya. Ada kesempatan untuk belajar hal yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sama sekali. Sebuah jalur kosong untuk mulai berlari lebih kencang lagi.

Bukan berarti, harus selalu disengajakan biar salah. Itu mah, bodoh. Maksudnya adalah, salah arah, tidak buruk – buruk amat. Jangan terlalu sering menghukum diri sendiri.

Seiring dengan salah arah, kita akan belajar banyak hal. Belajar menerima keadaan sebagai contohnya. Apa yang sudah terucap, mana mungkin bisa balik lagi. Nasi sudah menjadi bubur, pepatah bilang. Alhasil, kita jadi harus tetap bergerak. Tanpa perlu terlalu sering melihat kebelakang.

Mari kita berdoa saja semoga apa yang kita putuskan, tidak menyakiti hati orang lain. Maupun hati sendiri. Meskipun, yaa resiko tersebut ga mungkin dapat kita hindari. Tapi kalau masih bisa memaafkan, maafkanlah.

Bukannya mau menggurui. Tolong garis bawahi.

Karena gua pun masih kebingungan dengan konsep – konsep hidup yang kaya gini. Rasanya seperti jadi seorang balita lagi. Apa saja dimasukan ke mulut, sampai akhirnya belajar bahwa sudut meja itu rasanya hambar.

Sama seperti kita sehari – hari, apa saja dimasukan ke hati. Sampai akhirnya belajar kalau hati, juga perlu hati – hati. Bingung ga lu ?

.
.
.

Kalau hidup ada ‘kunci jawaban’ nya, kira – kira bakal kita pakai tidak ya ?

Siapa tau Tuhan sudah memberikan kita ‘contekan’, tapi kita terlalu fokus kebingungan sampai tidak dengar sama sekali. Nah loh.

1.09.2017

Sedikit Tentang Perpisahan


Perpisahan itu menyakitkan, Perpisahan juga menyembuhkan.
Perpisahan itu sebuah alasan, Perpisahan juga sebuah penolakan.
Perpisahan itu sebuah awal, Perpisahan juga sebuah akhir.
Perpisahan itu menyerah, Perpisahan juga berjuang.
Perpisahan itu pengertian, Perpisahan juga salah paham.
Perpisahan itu perdamaian, Perpisahan juga awal kehancuran.
Perpisahan itu maju, Perpisahan juga mundur.
Perpisahan itu berhenti, Perpisahan juga melanjutkan.
Perpisahan itu melupakan, Perpisahan juga mengingat ulang.
Perpisahan itu bergerak, Perpisahan juga diam sejenak.
Perpisahan itu keterlambatan, Perpisahan juga keduluan.
Perpisahan itu keyakinan, Perpisahan juga keraguan.
Perpisahan itu baik, Perpisahan juga buruk.
.
Perpisahan itu banyak artinya, begitu juga Kehidupan.


Original Photo by Robert Wnuk


Maaf jika tulisan ini terlihat seperti remaja sekolah menengah yang baru mengalami pubertas.

Tapi, percaya atau tidak, pada umur sekitar 40-an nanti, kita akan mengalami pubertas yang kedua. Coba itu. Mending kaya gua, dicicil dari sekarang. Lagian nanti pas umur 40-an, siapa lagi yang mau digalauin ? istri kedua ? mending mikirin mati. Persiapan dulu sebelum bertemu Sang Pencipta.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah film berjudul ‘What Dreams May Come’. Yang dibintangi oleh salah satu aktor legendaris, Robie Williams. Salute, sir. Sekarang beliau sudah berada di alam yang berbeda, dengan aktor dan aktris legendaris yang lainnya.

Bercerita tentang perjuangan seorang suami bernama Chris Nielsen, yang diperankan oleh Robie Williams, untuk menemui istrinya, di Neraka.

Nih, inilah contoh suami idaman. Sampai Neraka pun, Istrinya tetap ditemani dan dijaga. Jadi kalau kalian mau cari pasangan, jangan lupa tanya,

“Kalau Aku masuk Neraka nanti, Kamu ikut ga ?”

Kemudian kalian seleksi sendiri dari bagaimana jawabannya.

Menurut gua, film ini cocok banget untuk kalian yang suka dengan genre drama atau romance. Karena banyak banget pelajaran tentang kehidupan, yang bisa diambil dari film ini. Terutama, film ini mengajak penontonya untuk mendalami makna dari kalimat ‘Jangan Menyerah’.

Beneran dah, kerasa banget perjuangan si Chris Nielsen untuk mencari Istrinya di Neraka. Meskipun ‘para penjaga’ disana menghalangi, bahkan mengatakan kalau mencari belahan jiwanya di Neraka merupakan hal yang tidak mungkin. Tapi, rasa cintanya kepada sang istri membuatnya teguh dan tetap melanjutkan perjalanan.

Di dalam film tersebut juga, nampak jelas bagaimana perpisahan dapat mempengaruhi kehidupan kita. Bahkan ada bagian dimana, sang istri sempat mengalami gangguan mental dan harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Ini cuma di Film. Bagaimana kalau di kehidupan nyata ?

Setiap orang punya sudut pandang tersendiri mengenai ‘Perpisahan’. Serta punya caranya sendiri untuk melewati sebuah ‘Perpisahan’. Tapi, bisa tidak kita sama – sama setuju, kalau yang namanya ‘Perpisahan’ itu, pasti menyakitkan ?

Dua mahluk hidup yang sebelumnya menyatu, tiba – tiba pada suatu masa di kehidupan, mereka berpisah, pastinya tidak menyenangkan. Bayangkan seperti mencabut urat nadi dari pergelangan tangan. Jika tidak merasa sakit, mungkin kita sedang sekarat menuju kematian.

Tapi, jika dipikir lagi, seharusnya perpisahan juga dapat membuat kita tumbuh. Membuat yang meninggalkan atau yang ditinggalkan, belajar dari kesalahan.

Artinya, perpisahan juga dapat bermakna positif, untuk beberapa orang yang melihatnya dari sudut pandang berbeda. Yang pikir berpisah itu buruk, boleh. Yang pikir berpisah itu baik, silahkan. Tentunya tergantung dengan konteks ‘Perpisahan’ yang dihadapi masing – masing.

Yang membuat sebuah ‘Perpisahan’ itu menyakitkan, bukan ucapannya. Tapi, kenyataannya. Aftertaste atau dampak yang diakibatkan setelah melewati sebuah ‘Perpisahan’.

Apa yang tadinya ada, menjadi tidak ada. Inilah yang paling umum. Inilah yang akhirnya membuat makna ‘Perpisahan’ jadi negatif. Inilah yang membuat orang yang meninggalkan, rasanya menjadi orang ter-brengsek sedunia.

Meskipun pada akhirnya kita akan tau alasannya, tetap saja rasanya tidak berubah.

Yang terbaik untuk dilakukan setelah sebuah ‘Perpisahan’ adalah, tidak ada. Kenapa ? Karena menurut gua manusia cenderung melakukan sesuatu secara spontan. Belajar dari kejadian juga mungkin hanya mempertebal mental saja.

Tapi, tidak ada salahnya bersiap. Kata Pepatah, ‘Sedia Payung Sebelum Hujan’ juga ada benarnya. Mengalami kejadian yang sama, tidak mungkin tidak mengajarkan kita sesuatu. Betul tidak ? Masa iya, jatuh kelubang yang sama setiap kalinya. Situ orang apa yuyu’, demen banget main di lobang.

.
.
.

Oiya, Selamat bersenang – senang dengan sakit hati. Siapa tau nanti tidak bisa merasakannya lagi.

BTW, yang namanya ‘Pepatah’ itu siapa sih !? Kenapa kita bisa nurut banget sama setiap perkataannya ya ?