Dari Orang - Orang Yang Terbiasa Berpikir Dua Kali

Januari 07, 2018

Seperti waktu menentukan, “Ini.. nge-buka tulisan kali ini, enaknya gimana ya”, “Gimana kalau nanti gini, terus akhirnya begitu ?”

Menjawab pertanyaan, dengan pertanyaan.

Ya gimana, habisnya sudah kebiasaan.

Artwork by Hvryo

Bapak selalu bilang, “KALAU MAU NGELAKUIN SESUATU ITU, PIKIR DULU DUA KALI !” Iya, Bapak bilangnya sambil mbentak. Duduk di kursi plastik, kedua tangan di pinggul seperti Jendral mau marahin anak buah. Kemudian Saya disuruh Push-up.

Dari dulu sampai sekarang, Saya memang  manusia yang cukup ceroboh.

Seperti saat kepleset naik motor, waktu jalannya licin, dan belog tanah merah. Atau jatuh jungkir balik di depan gereja sampai demam.

Dulu, Saya memang ceroboh yang cenderung ke-bego-begoan.

Bapak pasti marah, dan kata – kata “MAKANYA ! PIKIR DULU DUA KALI !” keluar dari mulut Bapak. Disusul dengan kumisnya yang bergetar hebat. Bikin Saya ter-intimidasi. Mau ngejambak, tapi masih hormat.

Mungkin Bapak Cuma gamau melihat anaknya kesakitan, atau terluka akibat kebodohannya sendiri. Dan jujur, Sekarang, Saya jadi merasakan apa yang Bapak rasakan.

Kesal parah, melihat orang yang terluka atau kesakitan, akibat kebodohannya sendiri. Ingin hati berkata, “GUOBLOK SIH LU ! SAKIT KAN !” tapi kemudian sadar, orang yang lagi sakit, dibentak ‘GUOBLOK’ malah makin njerit. Jadi dipendam saja. Mungkin dulu, Bapak merasakan hal yang sama.

Di hatinya mungkin, sudah mengumpat minimal sepuluh jenis kata terlarang buat anaknya.

Tapi berkat didikan Bapak, Saya mau tidak mau jadi terbiasa untuk selalu berpikir dua kali. Seperti Baymax yang di-program oleh Hiro untuk melindungi dirinya, Saya di-program sama Bapak untuk melindungi diri Saya sendiri.

Jadinya Saya tidak mudah jatuh kedalam yang namanya, “Lubang Yang Sama.”

Terus yang paling Saya suka akibat sering berpikir dua kali, Saya jadi bisa membaca situasi. Dan ini, skill yang paling keren, dan paling berguna.

“Memang apa siiiih hubungannya, berpikir dua kali, sama bisa baca situasiii ?” (Mungkin) beberapa dari teman – teman ada yang bertanya dengan nada yang menyebalkan seperti itu.

Nih, dengan bisa berpikir dua kali, Saya jadi tidak gampang nge-judge tanpa alasan. Alam bawah sadar Saya pasti ngomong, “Gimana kalau ternyata, Dia ga begitu?” atau “Siapa tau dia begini karena ada sesuatu.” Akhirnya, Saya jadi tidak bertindak asal – asalan.

Keren kan ?

.

Tapi, semakin bertambah dewasa, semakin banyak bulu – bulu yang tumbuh dimana saja, makin Saya sadar, sebenarnya kebiasaan ini adalah pedang bermata dua.

Ada sisi sebelahnya, yang tanpa sadar, menggrogoti Saya pelan – pelan.

“Maksudnyaaa..??” Lagi – lagi beberapa dari teman – teman (mungkin) ada yang bertanya dengan nada demikian.

Karena sudah terbiasa ‘berpikir dua kali’, Saya jadi pribadi yang gampang skeptis. Saya mudah sekali ragu – ragu. Waktu yang harusnya digunakan buat ambil keputusan, malah Saya pakai untuk mikirin kemungkinan – kemungkinan yang belum tentu ada benarnya.

Makannya Saya iri sama teman – teman yang bisa bertindak sesuai dan sebebas hatinya. Yang ga perlu mikir ini – itu, Yang tanpa di-komando tubuhnya jalan sendiri.

Kalau kita ada dalam situasi yang sama, seperti lomba lari misalnya, Saya pasti mikir hal – hal yang ga penting seperti, “Nanti kaki kiri di depan, supaya akselerasi dan tumpuannya bisa lebih kuat dibanding kaki kanan.” atau “Gimana kalau nafasnya pendek – pendek aja, supaya tenaga yang dikeluarkan bisa efektif dan maksimal ?”

Waktu wasit tiup peluit, Saya kaget, “Eh copot !” Kemudian makan debu. Ditinggal teman – teman yang hampir sampai garis finish.

Saya respect dengan teman – teman yang bernyali seperti itu. Yang punya pola pikir se-sederhana itu. Memandangi mereka seperti rekreasi, untuk orang – orang yang punya pikiran kompleks kaya Saya.

.

Eh ! Tapi, Duh.. Saya tahu ga semuanya seperti itu. Saya menyimpulkan hanya berdasarkan dari apa yang Saya liat. Nanti kalau pada marah gimana ya ?


Nah tuh kan, Saya mikir dua kali lagi.

You Might Also Like

8 Komentar

  1. Semakin dewasa tapi katanya emang lebih banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu. Sulit banget berpikir seperti anak kecil lagi yang nggak mikirin risikonya. Padahal, pas kecil kalau kita salah atau jatuh, itu nanti jadi pelajaran. Belajar dari pengalaman gitulah. Sayangnya, orang dewasa sering melarang ini-itu. Dan, bocah yang semakin dilarang justru penasaran. Wahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena udah keseringan 'belajar dari sesuatu', jadinya antisipasinya lebih kuat dibanding rasa penasarannya.

      Jadi orang dewasa ribet hahaha

      Hapus
  2. kadang kalau melakukan sesuatu itu kudu mikir minimal dua kali,
    kalau bisa mah lima kali,,,,biar g nyesel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah betul~

      Tapi jadinya kebanyakan mikir, malah ga jadi - jadi..

      Hapus
    2. Katanya klo perkara kebenaran, berarti pemikiran/ pendapat pertama yg bener. Tpi klo persoalan kebijaksanaan, pikiran/pendapat terakhir yg kudu diikutin. Katanya.

      Hapus
    3. Wah emang iya ya ? Baru denger nih Saya..

      Hapus
  3. Menurutku mikir dua kali sebelum bertindak emang perlu, biar tindakan yang diambil matang dan nggak terburu-terburu.
    Walau emang resikonya bisa bikin ragu sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kaya gambling sih, 50 : 50. Tapi kalo udah mikir dua kali, kayanya resiko untuk gagalnya berkurang beberapa persen

      Hapus