Pages

  • SINI GUA BILANGIN
  • Sini Kenalan !
Instagram Facebook Twitter

Sini Gua Bilangin!

Ekskresi Hati dan Pikiran, dari Insan yang Sok Tahu.

    • SINI GUA BILANGIN
    • SINI KENALAN

    Dengar. Mas-mas tukang nasi goreng mengayun sodet hingga buyar nasi di wajan. Beberapa butir nasi gugur berjatuhan. Sisanya menari dengan sambal cabai sembilan, dan berbagai bumbu racikan.

    Bulan, malam itu telah disabit. Entah salah apa dia sebelumnya.

    Photo by Jack Chen on Unsplash

    Kita sering salah kaprah, mengenai ekspektasi, dan efek sampingnya yang bukan-bukan. Bersyukurlah kau yang sekarang merasa baik-baik saja. Tunggu sampai situasi jadi memberikan beban yang berlebihan. Barulah kita mengkonsumsi ekspektasi layaknya painkiller, atau pereda rasa nyeri.

    Nyeri dari lebam yang kita dapat akibat bertahan hidup. Belum ditambah luka bakar rasa takut, dan baret dari ragu-ragu. Semuanya secara bersamaan terasa sangat ngilu.

    Ekspektasi dan reaksi kimianya, dapat meredakan rasa tersebut. Namun bersamanya datang efek samping. Dan yang paling mengganggu kinerja tubuh merupakan, rasa kecewa.

    Mbak-mbak sosialita yang tinggal di Apartemen lantai ke-2000 bilang, “Enggak apa-apa berekspektasi tinggi, sayang.” Remaja tanggung dengan bulu ketek malu-malu, bergidik. “Asal kamu tahu cara bersikap, kalau ekspektasimu enggak kesampaian.” Lanjutnya.

    Mbak-mbak tersebut membenarkan konsumsi ekspektasi yang teratur. Serta memberi wejangan agar tetap tenang ketika efek samping dari ekspektasi mulai muncul ke permukaan. Kalau dipikir berulang, tidak ada yang keliru dari ucapan tersebut.

    Tapi, apalah kita yang cuma seorang pelaut amatir? Membaca arah mata angin saja tidak bisa, apalagi bersikap biasa saja waktu merasa kecewa. Bercanda ya? Pokoknya kita tidak bisa.

    Yang kita tahu, ekspektasi, seperti malam hari penuh bintang tapi dengan bulan yang sabit. Padahal, yang sempurna itu yang purnama. Yang bentuknya bulat, membagikan cahayanya sekuat tenaga.

    Hanya kurang sedikit lagi, hanya kurang bulan yang bulat saja. Tapi rasanya ada yang hilang sepenuhnya. Begitulah ekspektasi.

    Tapi kalau dipikir lagi, salah apa bulan yang disabit? Dasar manusia, inginnya yang selalu sempurna.

    Lalu apa yang salah dari ekspektasi? Dasar manusia, maunya yang pasti-pasti saja.

    .

    Daya tahan tubuh mulai menurun. Bukan hanya dari kerasnya cuaca, tapi juga harapan yang sia-sia. Hingga mampet hidung kita, berkali-kali menyeka yang turun tanpa sengaja.

    Apa perlu, Kita merasa kasihan dengan ekspektasi?

    Bayangkan Ia seekor hewan peliharaan. Berupa kucing misalnya. Yang kita temui dipinggir jalan, kita beri makan, kita beri tempat tinggal yang nyaman. Hingga tumbuh tanaman liar yang tidak beraturan bernama, “Perasaan Sayang.” Bersamanya datang puluhan ribu hama, yang menyerupai sebuah ekspektasi.

    Lalu seketika, kita menginginkan hal yang tidak wajar. Dari mahluk nan lucu yang katanya kita, “Sayang.”

    “Hei, coba kau bisa memanjat menara Eiffel dan mengibarkan bendera perdamaian.” “Eh, kayanya keren deh, kalo kamu jadi Astronaut Kucing Pertama di Dunia.” Atau, “Sayang, bisa tidak kau memberikan hal yang sama, seperti yang telah Aku berikan kepadamu sebelumnya?”

    Ya tidak begitu, cara mainnya. Bumi tidak berputar pada poros yang Kita sebut, "Diri Sendiri." Kehidupan juga begitu.

    Entah seberapa banyak pengandaian mengenai ekspektasi dapat yang dibuat, Ia akan tetap ada. Menjadi semacam enigma, atau teka-teki yang jawabannya bisa saja benar, tapi belum berarti salah. Begitupun sebaliknya.

    Continue Reading
    Nenek Moyang, dulu adalah seorang pelaut. Namun generasinya sekarang, kebanyakan adalah seorang penakut. 

    Tidak. Bukan berarti tidak pernah berjuang.

    Pada samudra yang buas, Nenek Moyang berpetualang. Sedang generasinya sekarang, kebingungan mencari jalan pulang.

    Tidak. Bukan berarti tidak pernah melakukan perjalanan.

    Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

    Ombak ganas sesekali menghantam kapal di atas lautan kehidupan seseorang. Ia berbentuk masalah-masalah, kekeliruan, ketakutan, dan hal-hal buruk lainnya. Menggoyangkan seluruh kapal, membuat isinya berantakan.

    Ombak-ombak tersebut bukannya datang tanpa peringatan. Dari kejauhan, kapten kapal telah melihat adanya perbedaan gelombang. Kemudian disusul dengan perintah kepada seluruh anak buah kapal untuk mempersiapkan diri, beberapa saat lagi akan terjadi benturan.

    Setelahnya adalah kepasrahan. Apakah kapal yang dinaiki dapat tetap bertahan? Jawabannya ada pada orang-orang yang selamat, atau dibawa tenggelam di kedalaman.

    “Laut yang mudah, tidak membentuk pelaut yang handal.” Kalimat dari pelaut tua yang berpengalaman.

    Seseorang dapat menyatakan keadaan baik-baik saja, atau tidak baik-baik saja, setelah melewati apa yang ada di hadapannya. Seseorang dapat memperbaiki apa yang rusak, setelah memberanikan diri berjalan kedepan.

    Apa yang dapat dilihat jika memilih memberhentikan perjalanan? Membentur ombak, tidak percuma kan?

    Pelaut yang handal meliuk-liuk di atas kapal. Memanjat tiang semudah berenang. Terjun ke laut dengan keindahan. Tapi, tidak datang dengan nilai yang murah.

    Semuanya berlayar melewati arus pengalaman. Dari damainya gelombang di pesisir pantai, dekat dengan rumah. Hingga ombak raksasa yang melahap lambung kapal. Mendapatkan bekas luka sebagai hadiah perjalanan.

    Para pelaut yang handal telah merasakan berbagai macam lautan. Tetapi kenyataan tersebut tidak menghalangi mereka untuk kembali pergi berpetualang.

    .

    Kita sekarang, adalah nahkoda dari kapal yang tidak kita buat sendiri. Dasar dan kerangkanya telah ditentukan beberapa kali. Barulah pada pelayaran yang kesekian, Kita memegang kendali.

    Maka, tidak apa sedikit menyalahkan keadaan. Realitanya datang dengan jawaban. Terutama untuk mereka-mereka yang kerap kali menjatuhkan. 

    Tidak ada yang benar-benar memulai perjalanan sendirian.

    Meski begitu, mengarungi lautan seharusnya tidak perlu banyak alasan. Ketika telah berada di atas samudra, semuanya menjadi setara.

    Kita mungkin kurang beradaptasi. Kurang menekuk sudut-sudut tubuh, membengkokan sendi-sendi. Kurang lihai membaca angin, kurang percaya diri memegang kemudi.

    Mohon maaf, Nenek Moyang. Lautannya sekarang berbeda, meski ganasnya tetap sama. Memecahkan kode-kode kehidupan, bisa dibilang mirip seperti membaca rasi bintang. Kami juga tengah mencari jalan pulang.

    Kalau ditelusuri lebih dalam, pastinya terdapat cerita tentang Nenek Moyang yang tersesat. Nenek Moyang yang tidak jadi berpetualang, Nenek Moyang yang kebingungan. Mengingat banyaknya cerita-cerita yang telah diutarakan.

    Jadi tidak apa bukan? Petualangan, kan tetap petualangan?

    Pada akhir perjalanan, Kami juga akan dikenal sebagai pelaut. Meski tidak sehebat apa yang telah Nenek Moyang sebut.
    Continue Reading
    Kebebasan untuk menentukan bagaimana masa depan, merupakan hak teristimewa. Hanyalah orang-orang terpilih, dengan cerita khusus yang telah ditulis demikian.

    Beberapa di antara kita harus melaju di atas sebuah rel yang sudah ada sebelumnya. Kecepatan, tujuan, kelokan, teratur. Diatur. Tanpa adanya kesempatan menentukan.

    Dibawanya di dalam gerbong, peti-peti kayu penuh harapan. Dari orang-orang yang mengira bahwa, yang terbaik ya memang apa yang sudah ditentukan.

    Photo By Deglee Degi on Unsplash


    Mari membayangkan ‘masa depan’, sebagai sebuah hutan belantara. Penuh dengan pepohonan menjulang, dan suara-suara bising para penghuni hutan.

    Seekor monyet memberitahu orang-orang bagaimana cara hidup yang seharusnya. Burung jalak bersahutan saling membenarkan. Ular yang dengan liciknya menjerumuskan siapapun jatuh ke jurang.

    Kita, petualang. Atau lebih tepatnya, manusia-manusia yang hilang. Ditelan lebatnya dedaunan dan keingintahuan.

    Ujung yang tidak terlihat, menyimpan banyak misteri. Dari bagian hutan satu dengan bagian hutan lainnya berbeda. Mereka yang tidak mempunyai kesiapan hati, sudah pasti habis ditelannnya.

    Meski menyeramkan, keberadaan belantara ini penting. Siapapun harus melewatinya. Ia rintangan, sekaligus bagian dari proses perjalanan.

    Di dalamnya, seseorang bisa menemukan. Atau berakhir ditemukan.

    Beberapa ditakdirkan untuk keluar dari hutan dengan selamat. Meski penuh luka, mereka berhasil menemukan sebuah jawaban. Namun pada waktu yang bersamaan, beberapa yang lain ditakdirkan untuk berhenti di tengah jalan.

    Sudahlah penuh luka, tidak menemukan apa-apa pula.

    Berawal dari garis mulai yang sama. Kemudian berpisah di persimpangan. Beberapa terpaksa tidak melanjutkan.

    Dalam kepasrahan, mereka melangkahkan kaki memutar balik kembali ke jalan utama. Meronta hatinya, kebingungan menyalahkan siapa. Ini bukan akhir yang seharusnya.

    Mereka yang selamat, merayakan keberhasilan. “Kemenangan bersama orang-orang yang pantang menyerah!” Serunya. Sorak-sorai terdengar ke seluruh penjuru hutan, hingga ke telinga Mereka yang sedang dalam perjalanan pulang.

    Di dalam hatinya menggerutu. Kesal. Karena semua seruan itu benar.

    .

    Proses menerima kenyataan memerlukan banyak waktu. Realita kehidupan yang dengan penuh kasih sayang, akan membangunkan orang-orang dari tidurnya. Sampai akhirnya kesadaran diri untuk setuju, inilah yang harus dijalankan.

    Menari-narilah setelahnya. Karena, ya mau apa? Tertawalah sepuasnya. Karena, ya bisa apa? Menangislah sejadi-jadinya. Karena, ya sudahlah ya?

    Sekarang, kan jadi tahu bisa apa. Batasnya sampai di mana.

    Bergembiralah. Karena ternyata, salah satu kekuatanmu adalah kelapangan dada. Yang mana, hanya segelintir manusia di muka bumi yang memilikinya.

    Tidak ada yang salah. Malah terimakasih telah mencoba. Mana ada yang tahu, akan jadi seperti apa perjalanannya.
    Continue Reading
    Apa yang sedang Aku saksikan adalah, sebuah pertikaian terbesar sepanjang masa. Dua kepala dengan isi yang berbeda, sama – sama ingin menang dan berkuasa. Atas apa yang Mereka bilang dengan, ‘Pengakuan’. Atas tahta di atas segala aturan – aturan.

    Keduanya saling melontarkan anak panah. Keduanya saling menombak ke segala arah. Tanpa peduli darah siapa yang berjatuhan.

    Ini menakutkan. Ini menghancurkan.

    Aku dengan hati yang berserakan, hanya bisa mengutuk dalam – dalam.

    Photo by Jose Murillo on Unsplash

    Tidak ada yang bisa tidur nyenyak dengan nafas yang memburu. Detak jatung tak teratur, dan pikiran yang kacau balau. Kalau pun dapat memejamkan mata, paling hanya untuk beberapa detik saja.

    Kemudian, keringat dingin kembali berkucuran, berpikiran yang bukan – bukan. Lambat laun mulai mengikis kesadaran.

    Sebenarnya, apa yang membuat Mereka begitu nyaman dengan perseteruan ? Apa yang membuat Mereka mudah sekali menabuh genderang perang ? Meneriaki satu sama lain, memburu dengan kejam.

    Mungkin sedang mempertaruhkan sesuatu yang penting. Atau mencari jawaban atas pertanyaan - pertanyaan. Atau memang ini adalah sebuah jenis penyakit, dan Mereka punya kelainan.

    Apapun itu, perseteruan dan pertikaian bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

    Tidak jauh dari medan perang, ada segerombolan orang yang jadi korban. Orang – orang yang terpaksa melihat kehancuran dari sisi yang tidak aman.

    Bayangkan di-bombardir dari kedua arah. Tidak bisa bergerak, tidak dapat berbuat apa – apa. Diam, dengan wajah yang murung dan sendirian. Setiap waktu mempertanyakan, “Kapan akan berhenti?”,“Kapan Kami pulang?”

    Namun, gelegar suara meriam masih bersahutan. Teriakan demi teriakan semakin kencang. Perang tidak akan selesai dalam waktu dekat.

    Mereka hanya bisa menarik kesimpulan, bahwa bertahan hidup sambil mengharapkan datangnya keajaiban, adalah jawaban yang paling tepat.

    .

    Kemudian, tibalah Mereka pada babak terakhir. Babak yang menjadi puncak dari segalanya. Dengan amarah yang telah mencapai titik didih, kesadaran yang memudar, dan waktu yang berhenti berputar.

    Kedua tubuh yang bertolak belakang, Kedua kepala yang bersitegang, mulai kehilangan tenaga. Lalu jatuh bersamaan.

    Apa yang Mereka lihat di sekitar hanyalah kekosongan. Dihiasi dengan kehancuran – kehancuran. Air mata, dan luka yang dalam.

    Di penghujung nafas yang mulai menipis, barulah Mereka sadar. Mereka telah kehilangan segalanya. Mereka telah kehilangan apa yang seharusnya sangat berharga. Mereka telah kehilangan apa yang seharusnya terjaga.

    Dan untuk itu, Aku ucapkan selamat datang di penyesalan. Sebuah tempat di sudut bumi yang paling ‘edan’.
    Continue Reading
    Sebuah bangunan besar sedang dibangun di atas bukit. Dengan tembok – tembok yang tinggi menjulang sampai langit, membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa kerdil.

    Namun, nampaknya tidak berpenghuni. Kecuali benda – benda aneh yang dibalut cahaya, diletakan sembarang di dalamnya.

    Kemudian, seorang perempuan berjalan ke dalam. Berjalan dengan tudung hitam, dan menunduk. Meletakan benda – benda di dalam pelukannya, di sekitar benda – benda lainnya.

    Cahaya putih ke kuningan yang terpancar, sangat menyilaukan mata. Namun Aku bisa melihat dengan jelas, perempuan ini terlihat benar - benar kesedihan.

    Photo by Dave Ruck on Unsplash


    Tidak ada yang salah jika seseorang ingin melindungi dirinya sendiri. Sampai kepada tingkat di mana, mereka melarikan diri. Kemudian membuat tempat untuk bersembunyi.

    Mengurung diri. Tidak memperbolehkan siapapun untuk mendekat sama sekali.

    Bisa saja tempat bersembunyi itu, adalah sebuah Kastil. Tempat para Raja – Raja, Ratu, dan para Petinggi. Karena apapun yang ingin Mereka lindungi, sama pentingnya, sama berharganya. Hingga  perlu tempat yang pantas dan luar biasa.

    Hal – hal seperti Hati, misalnya. Atau sebuah kesadaran. Karena keduanya sangat mahal dan langka.

    Kita semua punya sesuatu yang tidak perlu diketahui banyak orang. Rahasia, dosa, luka – luka, bagian dari diri kita yang lain, dan sebagainya. Ini sungguh wajar. Karena hal inilah yang membuat seorang manusia, menjadi ‘manusia’.

    Dan dibongkar, diketahui, bahkan disakiti, adalah hal ke-dua-ribu-sembilan-ratus-sembilan-puluh-sembilan, yang paling Mereka inginkan.

    Bagi Mereka, bersembunyi adalah jalan keluar satu – satunya.

    Namun tanpa sadar, sedikit demi sedikit, hal ini yang akhirnya memutus Mereka dengan dunia luar. Terisolasi, sendirian. Mungkin bisa sampai dimakan waktu, kemudian dilupakan.

    Tidak hanya Mereka menyakiti diri sendiri, Mereka juga menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Orang – orang yang tanpa sengaja berjalan, dekat tempat di mana Mereka berada.

    Kastil yang dibangun atas nama ‘perlindungan’, tempat ter-aman untuk meletakkan badan, pertahanan terakhir sebelum jatuh lebih dalam,

    Akhirnya runtuh dengan perlahan.

    .

    Beberapa orang bisa terlihat baik – baik saja, meski di dalam hatinya, Mereka merasa sangat ketakutan. Berjalan dan membaur dengan sekitar, sambil menahan kesakitan.

    Aku kenal dengan seorang perempuan. Senyumnya selebar pegunungan, dan wajahnya secerah matahari di ujung jalan. Melihatnya, menenangkan hati yang sedang berantakan.

    Suatu waktu, Aku mencoba melihat lebih dalam. Membawa ke dua mataku untuk melihat sesuatu yang tidak pernah diperlihatkan. Dan di sana lah Ia berdiri, di hadapan sebuah kastil dengan menara – menara yang mulai berjatuhan. Kesepian.

    Pantas saja setiap Aku mendekat, ada sistem pertahanan yang terlihat sangat  mencurigakan. Namun, pertahanan tersebut sepertinya tidak akan bertahan lama. Aku tahu, dan Aku lihat.

    Sekarang, Aku sedang mencoba mengulurkan tangan. Menawarkan diri untuk menemaninya melihat kehancuran. Bersama - sama. Paling tidak, agar tidak sendirian. Agar lebih aman. Agar tidak sakit berlebihan.

    Karena Aku paham rasanya. Karena Aku juga punya Kastil yang mulai hancur pelan – pelan.
    Continue Reading
    Sebuah roda bergerigi, di dalam mesin yang menggerakan tubuh seorang pemuda berumur 21 tahun, telah berhenti berkerja.

    Membuat apa yang tadinya ingin Ia lakukan, menjadi tidak terlaksanakan.

    Suara – suara mesin malfungsi, percikan arus pendek di beberapa tempat. Kemudian, Pemuda itu marah.

    Faktanya terlalu menyakitkan. Saat seseorang tidak tahu apa – apa, serta tidak bisa berbuat apa – apa. Diam dan kepayahan.

    Photo by Chester Alvarez on Unsplash


    Ini kekalahan yang aneh. Karena lawan bertarungnya, sama sekali tidak bisa dilihat. Meski begitu, pukulan – pukulannya tetap mendarat dengan tepat. Membuat Pemuda 21 tahun ini babak belur, tergeletak di sudut ruangan.

    Dan jangan salah, Ia tidak hanya dipukuli secara sepihak. Beberapa tinju, Pemuda ini layangkan sebagai bentuk perlawanan. Namun lagi – lagi, Ia tidak tahu siapa yang Ia lawan.

    Pemuda 21 tahun ini sedang berbicara tentang, bagaimana Ia bisa tiba – tiba berhenti dalam melakukan sesuatu. Dan merasakan kekalahan karena hal itu.

    Seperti tiba – tiba menghantam tembok besar, saat sedang berlari dengan sangat kencang. Terpental dan terpelanting ke belakang. Hancur berantakan.

    Padahal, kurang dari beberapa detik yang lalu, Ia tahu apa yang tadinya mau Ia lakukan. Apa yang ada di benaknya terasa benar – benar nyata, dan yakin pasti kejadian.

    Tapi.. BAM ! Ia menghantam karang, perahunya karam. Berhenti, dan tenggelam.

    Sekarang Ia hanya diam. Memandangi kertas – kertas yang berserakan. Di atasnya tertulis ide – ide gila, tadinya. Sekarang mungkin tidak akan pernah terealisasikan.

    .

    Pemuda 21 tahun ini, ingin melakukan banyak hal. Ingin mempunyai banyak hal. Yang tanpa sadar membuatnya berlari membabi – buta. Merusak apapun yang ada di sekitarnya, termasuk  dirinya sendiri.

    Hubungan dengan orang lain, kecanggungan, keragu – raguan, membuatnya merasakan cemas yang berlebihan.

    Ia sadar, Ia pemuda yang mudah jatuh. Namun mudah juga berdiri kembali. Membuatnya jatuh ke dalam sebuah lingkaran berulang, yang menggerogoti pikirannya secara perlahan.

    Ia tahu, Ia tidak lemah. Ia tahu, apa yang bisa menjadi kekuatannya. Tapi, kesadaran akan hal ini yang menimbulkan pola pikir, bahwa Ia tidak melakukan semuanya dengan benar.

    Pemuda 21 tahun ini berharap, Ia bisa baik-baik saja seperti Mereka yang sering dilihatnya. 

    Berharap dengan kesadaran penuh, bahwa Ia hanya menilai seseorang dari apa yang terlihat olehnya.

    Namun, apa yang bisa dilakukan seorang pemuda dengan mesin yang tidak bergerak ? Sampai semuanya beres diperbaiki, Ia hanya memiliki dirinya sendiri.
    Continue Reading

    Pegang controller, atau siapkan ibu jari di atas layar smartphone. Kemudian tekan tombol start. Biarkan loading, atau menghubungkan ke sebuah jaringan. Tunggu sampai permainannya dimulai.

    Tunggu..

    Masih menunggu..

    Kemudian,

    Permainannya sama sekali tidak pernah dimulai.

    Photo by Javier Grixo on Unsplash


    Kita semua tahu, bagaimana ‘tertarik dengan seseorang’, bisa menghentikan laju waktu. Iya, terdengar sangat menjijikan. Tapi, sadar tidak sadar, meski hanya satu detik pun, Kita terdiam.

    Menatap dalam – dalam, mengucap pujian – pujian.

    “Ya Tuhan, ini...” “Ya Tuhan, itu...”

    Sekali lagi, menjijikan memang. Namun mengakulah. Lagi pula, ini tidak salah. Tidak ada yang salah dari bagaimana Kita ingin merasakan kebahagiaan.

    Dan ini Universal. Semuanya merasakan hal yang sama. Mungkin hanya beda cerita.

    ‘Tertarik dengan seseorang’, membuat seseorang jadi siap siaga. Jeli melihat kesempatan bertukar kabar. Atau hanya sekedar sadar, melihat dari jarak yang aman.

    Semua dilakukan dalam waktu yang berangsur. Strategi terbaik menurut diri sendiri, supaya tidak hancur. Karena, “Ini yang terakhir..” katanya.

    Namun yang menyebalkan adalah, saat Kita tidak bisa membaca keadaan. Padahal berkali – kali dituntut untuk punya ke-peka-an. Ia ada disana, melakukan aktivitas sehari – harinya. Atau begitulah yang terlihat dari sosial media.

    Kita merasa punya perlengkapan yang cukup. Amunisi berupa, topik – topik pembicaraan. Pelindung badan berupa, mental saat bercanda kegaringan. Semua demi membuat perhatiannya, hanya terfokus pada Kita berdua saja.

    .

    Kemudian sadar, Kita hanya ingin memiliki. Yang secara tidak langsung, membuat dirinya terlihat seperti ‘objek’. Kepuasan obsesi, egoisme tingkat tinggi.

    Padahal Ia jiwa yang bebas. Jiwa yang lepas. Cakrawalanya masih sangat luas untuk dijelajahi. Banyak teka – teki yang perlu Ia isi.

    Tapi,

    Oh ini hanya Tapi,

    Bukannya, akan lebih indah, jika Kita bisa ikut terlibat di dalamnya.
    Continue Reading

    Aku melihat dunia dari balik kaca. Melayang dengan kaki di atas kepala. Sesekali berenang dalam hampa udara, terhuyung, kemudian kembali menatap planet ke tiga dalam tata surya.

    “Aku seharusnya sudah sembuh..., kan ?”

    Original Image from GOOGLE


    Dalam rangka kabur dari situasi, Aku memilih galaksi. Meninggalkan bumi dengan hanya membawa diri. Melintas lapisan udara setara awan, lalu tiba di pintu terluar planet ini.

    Aku mempersilahkan diriku tenggelam dalam suasana. Disusul takjub, oleh visual maha indah Andromeda. Gugus – gugus bintang, asteroid, planet, juga kenangan.  

    Iya, Kenangan. Kenangan memang indah bukan ? Apalagi kalau dilihat kembali dari posisi serta situasi yang berbeda. Jauh di atas Bumi misalnya. jauh dari subjek, jauh dari luka.

    Seolah - olah terlihat lemah ya ? Biarlah. Aku memang seorang terdakwa dari kalimat, “Yang lari dari masalah, hanyalah orang – orang lemah.” Tapi menurutku, untuk bisa sekuat Sang Surya, Aku harus mencicipi rasanya jatuh seperti bintang ke arah daratan yang paling rendah.

    Jadi saat ini, Aku hanya butuh lari. Ralat, Aku butuh sembuh.

    Dan proses untuk sembuh itu tidak mudah. Buktinya saja, Aku perlu lari dari Bumi. Dengan harapan, perbedaan jarak yang tidak biasa, bisa membantuku berpikir berulang - kali.

    Tetapi, ‘Luka’, adalah sesuatu yang tidak pernah main – main. Seperti bekas meteor pada bulan, luka bisa merubah bentuk seseorang. Dan hebatnya lagi, sama seperti batu – batuan di angkasa yang tidak sengaja menabrak planet. ‘Luka’, bisa menghancurkan siapa saja dengan tiba – tiba.

    Untuk sembuh dari luka, bukannya tidak bisa, tapi tentu perlu waktu yang lebih dari biasanya. Tidak melulu harus lama, namun tidak sebentar juga. Beberapa berkata, “Tergantung..” Jadi, satuan waktu untuk pulih, itu relatif.

    Buatku, di atas sini, di Galaksi, juga tidak banyak yang bisa dilakukan. Karena sejauh apapun kita terbang, luka pasti akan tetap ada. Luka pasti akan tetap kembali.

    Ditemani planet yang ukurannya berkali – kali lipat lebih besar dari tubuhku, Aku ter-intimidasi. Takut, dan sesak. Sempat berpikir, “Sesuatu yang se-raksasa ini, Yang kuat dan yang se-dewasa ini, mana mungkin perlu lari dari sesuatu. Ya kan ?”

    Aku merasa kecil, di ruang hampa penuh Raja.

    Aku biarkan pikiranku berkubang dalam kebingungan. Tanpa benar – benar tau cara untuk sembuh, Aku menikmati perjalanan.

    Atau mungkin, ini adalah salah satu jawabannya ? Berjalan ? Bergerak ? Pindah ? Bisa jadi. Aku mulai merasa seperti Ilmuwan, meski ber-tualang seperti Antariksawan. Bertanya ini – itu, mencari jawaban.

    Namun, sampai bisa sembuh sepenuhnya, begini rasanya tidak apa. Lari, juga proses bukan ?

    .

    Lalu, mengapa galaksi ?

    Galaksi itu pendengar yang baik. Ia tenang, meski ramai oleh asteroid yang saling beradu kuat. Ia dewasa, meski hanya sering jadi tempat pelarian bintang – bintang yang mati. Dan yang paling ku suka, Ia tidak menghakimi. Seberapa pun menjijikannya seseorang, setiap cerita tetap akan dinikmati.

    Di atas sini, Seseorang bisa bebas bersenang – senang dengan emosi. Menampakkan wajah terjeleknya saat marah, sedih, bahkan gila. Yang mungkin mereka bungkus sendiri, tidak pernah ditunjukkan kepada dunia.

    Hanya Raja – Raja raksasa ini yang menjadi saksi. Membiarkan orang asing sepertiku melepas emosi. Tidak membatasi, tidak menjadi juri.

    Mereka, Galaksi beserta isinya, seperti memberikan sebuah tempat, sebuah ruang, untuk orang – orang yang membutuhkan. Membutuhkan apa ? Apa saja. Karena Galaksi, tidak pernah memilah siapa saja yang boleh memeluknya.

    Galaksi tidak diciptakan hanya untuk dikagumi. Galaksi (beserta isinya), bisa menolong seseorang dengan caranya sendiri.


    Aku salah satu pasiennya.
    Continue Reading

    “Kereta dari arah Bekasi tujuan Jakarta Kota, akan segera tiba di jalur 3.”

    Seketika, ada yang berlarian. Ada yang mulai merapat ke depan. Ada yang mulai bangun dari tempat duduk. Ada yang stretching sambil memantapkan hati, “Kali ini pasti masuk kereta !”

    Oiya itu gua.

    Original Photo by Jaybparmar

    Jarak dari Bekasi ke Pasar Minggu itu, tidak dekat. Kira – kira, tidak bisa ditempuh dengan hanya berlari – lari kecil, seperti dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah. Minimal, bisa sampai 3 kali ganti unta, lah.

    Rasanya kaya pengembara. Mengingat Bekasi yang kondisinya sama seperti Gurun Sahara. Berpasir, Berdebu, Panas Terik, Fatamorgana, dan hal  yang menyangkut gurun pasir lainnya.

    Bedanya, di Gurun Sahara tidak ada macet seperti di Bekasi. Ga pernah liat kan, ada penunggang unta berhenti karena penunggang unta di depannya parkir sembarangan ? Bekasi memang kota tertjintah.

    Tapi tetap gua tempuh – tempuh juga. Lah mau gimana ? Sayang duitnya. Malah udah Semester 2 sekarang. Tanggung, 6 semester lagi. 8, kalau nanti ditengah jalan males – malesan.

    Motor jadi kendaraan utama gua untuk pulang - pergi ke kampus. Selain tidak ada yang jual “Pintu Ke mana Saja”, Motor juga yang paling mudah untuk mensiasati kondisi jalanan Jakarta.

    Meskipun pada akhirnya, yang benar – benar harus disiasati adalah waktu keberangkatannya. Karena “Macet”, adalah suatu hal yang abstrak. Makin tahun berganti, makin susah menebak keadannya.

    Udah bangun lebih pagi dari satpam kompleks, tapi tiba – tiba ada pekerjaan galian, kan sebel juga.

    Tapi beberapa hari lalu, gua dengan sembarang memutuskan untuk naik kereta. Yang setelah bertahun – tahun lamanya, gua selalu memilih motor untuk jadi kendaraan utama. SMP, SMA, Kerja, Kuliah. Yang semuanya di luar Bekasi.

    Mungkin karena, gua merasa, akhirnya gua berada pada titik jenuh naik motor. Juga malas menghadapi kondisi jalanan yang itu – itu saja. Dan lagi, seolah – olah pinggang dan punggung gua teriak, “ISTIRAHAT DULU, CUY !” gitu. Diikuti dengan bunyi – bunyi tulang yang berderik.

    Dari situ tiba – tiba muncul lah ke-bm-an untuk naik kereta.

    Hanya untuk mengetahui dan merasakan bahwa, Kereta arah Bekasi menuju Jakarta Kota, sangatlah beringas. Tidak pandang bulu dan tidak pandang gender. Ketakutan akan “keterlambatan” jadi motivasi buat orang – orang itu untuk masuk ke dalam kereta. Bagaimanapun caranya.

    Meski pihak kereta sudah berkali – kali bilang, “Kereta tidak akan berangkat jika pintu tidak bisa  ditutup dengan sempurna.” Tetap saja. Sesusah apapun, asalkan dapat pijakan dan pegangan, menurut mereka nyakitin orang sedikit tidak apalah.

    Sampai, Ibu – ibu nyelip di keteknya mas – mas. Mbak – mbak berdiri dengan posisi yang tidak normal. Gue menggunakan paha dan kepala sebagai pengganjal saat kereta berhenti dan bergerak tiba – tiba.

    Lalu dengan bodohnya, Gua salah kereta.

    Tapi percaya atau tidak, itu semua terasa benar – benar fresh dan menyenangkan.
    Gua sama sekali tidak menyesali naik kereta sedikitpun. Meskipun kadar kelelahan dan waktu tempuhnya sama aja kaya naik motor. Bahkan malah ditambah sikut – sikutan dan berebutan, lebih intense daripada naik motor.

    Kayaknya sesekali, perlu banget yang seperti itu. Adrenalin dan suasana yang baru.
    Karena, untuk melakukan hal yang sama untuk waktu yang lama, sangatlah menjengkelkan. Malah akan berakhir sangat buruk kalau terus – terusan dipaksakan.

    Itulah mengapa di dunia ini ada yang namanya liburan. Karena kita manusia, bukan mekanisme yang digerakan secara stagnan.

    Menurut gua, kabur, sesekali tidak apa – apa. Kabur disini maksudnya adalah, mencari hal yang beda, demi mensiasati hal - hal yang sama. Contoh, Naik kereta adalah cara kabur gua untuk mengecoh jenuh dan lelahnya naik motor. Sampai nanti, kembali naik motor dengan perasaan yang fun dan tidak menjengkelkan.

    Jadi, sesekali pergilah. Sesekali kaburlah.

    Mungkin hasilnya tidak seberapa, dan mungkin malah tidak ada perubahan sama sekali. Tapi, pentingnya luar biasa untuk kesehatan mental dan jiwa. Supaya tidak gila sebelum waktunya.

    .

    Dengan memasang tampang blo’on dan mengerutkan dahi, gua mikir, “Kok rasanya gua ngasih tau hal yang orang – orang udah tau ya ?”

    “Eh tapi, siapa tau mereka lupa. Bodolah.”
    .
    .
    .
    Dua ibu jari teracung, untuk kalian yang sedang melawan kejenuhan.


    Curi – curi waktu sesekali, jangan lupa.
    Continue Reading

    Ini teruntuk kalian yang matanya belum bisa terpejam sampai 2.20. Pagi, bukan siang. Formasi waktu yang sudah berkali – kali gua lihat di jam dinding. Dan akhirnya membuat gua terinspirasi untuk membuat tulisan yang tidak ada pentingnya ini. Enjoy.

    P.S : Jangan biasakan tidur jam segitu. Nanti jadi candu.

    Original Photo by Wu Yi


    1.  Berhenti sok sibuk di dunia maya.

    Kalau menurut gua pribadi, atau mungkin kebanyakan orang juga, masih terjaga sampai jam segitu, cuma karena masalah bosan semata.

    Bolak - balik beberapa aplikasi yang sama, dengan jarak waktu yang tidak jauh dari satu dengan yang lainnya. Satu kali jempol scroll kebawah, bosan, tutup, terus buka yang lain, kemudian balik lagi ke aplikasi yang pertama. Begitu terus sampai mata merah, jempol keringetan, kasur berantakan karena cari posisi yang ena’.

    Beruntung untuk kalian, yang punya seseorang untuk diajak bercanda lewat layar kaca sampai jam segitu. Lupa waktu mah, masa bodoh. Yang penting bisa cekikikan sambil guling – gulingan.

    Lah, untuk mereka yang sendirian ? mereka yang sedang tidak ada yang mengucapkan, “selamat tidur ya.. :)”, gimana ? Kesepiannya bikin bosan. Kemudian dilampiaskan dengan mencari hiburan. Daripada sakit hati, mending sakit badan. Ya ga ?

    Tapi, point pertama ini memang beneran harus dilakukan. Karena menurut studi (baca: google), radiasi dari smartphone bisa mengganggu kinerja otak, menghambat suatu hormon, sampai akhirnya mengacaukan jam tidur.

    Jadi kalau sampai jam 2.20 masih sibuk memantau dunia maya, segera istirahatkan. Selain menyakitkan, juga kasihan. Malu sama mereka yang punya kehidupan dan fokus masa depan.

    2. Basuh air ke muka.

    Usahakan dengan menggunakan air dingin, bukan air raksa. Sudah 2.20, jangan yang engga – engga.

    Lumayan untuk membantu jiwa ber-rileksasi. Terutama yang percobaan tidurnya berujung dengan gelisah. Entah karena panas, atau tidak sengaja teringat luka lama (re: kenangan).

    Oh sebelumnya, dilepas dulu topengnya. Topeng yang dipakai sehari – hari untuk mensiasati hidup bermasyarakat. Pasti lelah tidak bisa menjadi diri sendiri, ya kan ? Tidak apa kalau menurut gua, manusiawi. Kita mau orang tau yang baik – baik saja dari diri kita. Selebihnya kubur dalam – dalam, daripada membuat masalah.

    Tapi, jangan berusaha terlalu keras. Tidak semua orang harus dilayani dan dipuaskan. Coba belajar memilah keadaan. Ada saatnya topengmu berguna, ada saatnya topengmu hanya bikin kesal semata. Ada yang akan menerimamu dengan topengmu, ada juga yang akan menerimamu dengan segala goresanmu. Jadi, santai saja. *wink

    Waduh, lupa. Bukan itu pointnya. Kembali ke basuh muka.

    Biar urat – urat yang ketarik seharian, jadi kendor. Biar stress – stress yang tertahan, jadi lega. Biar jiwa, siap tertidur. Dan yang paling penting, Biar kalian siap menyambut orang tersayang di alam mimpi, dengan terlihat seperti terlahir kembali.

    3. Kunyah sedikit cemilan.

    Ya kalau – kalau lapar. 2.20 kan jam yang rawan. Tapi ingat ya, sedikit saja. Dasar mamalia !

    4. Minum segelas air putih.

    Ya kalau - kalau cemilannya nyangkut di tenggorokan. Atau ingin suaranya jadi serak – serak basah.

    5. Berdamai dengan pikiran.

    Ada kalanya hal sepele, tersangkut di kepala, kemudian membuat kita terjaga dengan waktu yang lama. Terus – terusan dikaji tanpa sengaja, sampai tiba – tiba fajar sudah mengintip ujung jendela.

    Meskipun padahal, beberapa jam sebelumnya, mata sudah berteriak lelah. Sudah mulai mengatup sedikit – sedikit, bertemu ujung bulu mata atas dengan bawahnya, seperti mengedip tapi lebih berat dan jeda terbukanya lama. Entah mengantuk, atau teler mabok genjer.

    Kadang dalam fase – fase kantuk seperti itu, kita bisa dengan gratis bercumbu dengan bahan metal dari casing smartphone sendiri. Terjun bebas dari genggaman tangan, mendarat dengan elegan di atas muka. Membuat kita terkesiap dan kembali berselancar di dunia maya.

    Tadi kan sudah mengantuk, tapi jadi segar kembali. Itu semua karena, dengan ajaibnya kita mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dan mungkin tidak pernah ada.

    Tapi, “Enak saja !” kata suara di kepala. Kemudian mulai mengungkit ini itu seperti sebuah komputer mencari data. “Yang ini gimana !?, Yang itu apa !?, Nanti kalau begini..!?” Katanya.

    Mau tidak mau, mata jadi terjaga. Sembari menunggu otak bekerja. Mau dipejamkan bagaimana juga, tetap saja. Kalau masih mengganjal, ya belum bisa. Makannya ini yang paling bahaya.

    Tidak ada cara yang paling benar untuk berdamai dengan pikiran. Setiap orang punya siasat yang berbeda – beda. Tapi ketahuilah, ini tetap harus dilakukan. Jika tidak mau merasa kacau di pagi harinya.

    Sebenarnya, apasih masalanya, dengan isi kepala yang meledak - ledak sampai selarut itu ? Apa mungkin karena, pikiran butuh waktu yang tepat, tempat yang nyaman, dan hati yang tenang, untuk mulai mengganggu ? Kurang ajar ya kalau dipikir – pikir.

    Ya sudahlah, bisa apa selain dinikmati ? Lagian tidak buruk juga berkabar dengan diri sendiri. Sampai nanti kelar sendiri, semoga belum muncul matahari.

    *

    Tadi sudah diingatkan di atas, kalau keseringan tidur selarut 2.20, akan jadi candu kedepannya. Bisa berbahaya bagi tubuh, pikiran, dan hati juga.

    “Tapi ko, sakit setengah – setengah, mending sekalian.” Ya terserah.

    .
    .
    .

    Selamat terpejam mata yang mulai lelah terjaga.Selamat menikmati 2.20, bagi yang jiwanya masih merana.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Siapa Ini ?

    Foto Profil 2020

    Jo Reha

    Hallo ! Apa kabar ? Saya Jo, yang biasanya nulis di blog ini. Maaf ya kalau tulisannya kurang jelas atau enggak masuk akal. Karena memang begitu Saya orangnya.

    Mikirnya kejauhan, Imajinasinya ketinggian. Jadi, salam kenal !

    Lebih Lanjut

    • facebook
    • twitter
    • instagram
    • youtube

    Bacaan Terbaik

    • Sudut Bumi Paling 'Edan'
    • The Game of Waiting
    • Pemeran, Penonton, dan Suntik Silikon
    • Galaksi, Ini dan Itu.

    Bacaan Terbaru

    Labels

    bekasi cerpen curhat kritik mikir Personal Thought random santai

    Arsip Blog

    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • Januari 2020 (1)
    • November 2019 (1)
    • Agustus 2019 (1)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (2)
    • Januari 2018 (1)
    • November 2017 (1)
    • Juli 2017 (1)
    • April 2017 (3)
    • Februari 2017 (3)
    • Januari 2017 (4)
    • Desember 2016 (1)
    • November 2016 (2)
    • Oktober 2016 (1)

    Para Pembaca

    Facebook Twitter Instagram Google Plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top