Pages

  • SINI GUA BILANGIN
  • Sini Kenalan !
Instagram Facebook Twitter

Sini Gua Bilangin!

Ekskresi Hati dan Pikiran, dari Insan yang Sok Tahu.

    • SINI GUA BILANGIN
    • SINI KENALAN
    Seperti waktu menentukan, “Ini.. nge-buka tulisan kali ini, enaknya gimana ya”, “Gimana kalau nanti gini, terus akhirnya begitu ?”

    Menjawab pertanyaan, dengan pertanyaan.

    Ya gimana, habisnya sudah kebiasaan.

    Artwork by Hvryo

    Bapak selalu bilang, “KALAU MAU NGELAKUIN SESUATU ITU, PIKIR DULU DUA KALI !” Iya, Bapak bilangnya sambil mbentak. Duduk di kursi plastik, kedua tangan di pinggul seperti Jendral mau marahin anak buah. Kemudian Saya disuruh Push-up.

    Dari dulu sampai sekarang, Saya memang  manusia yang cukup ceroboh.

    Seperti saat kepleset naik motor, waktu jalannya licin, dan belog tanah merah. Atau jatuh jungkir balik di depan gereja sampai demam.

    Dulu, Saya memang ceroboh yang cenderung ke-bego-begoan.

    Bapak pasti marah, dan kata – kata “MAKANYA ! PIKIR DULU DUA KALI !” keluar dari mulut Bapak. Disusul dengan kumisnya yang bergetar hebat. Bikin Saya ter-intimidasi. Mau ngejambak, tapi masih hormat.

    Mungkin Bapak Cuma gamau melihat anaknya kesakitan, atau terluka akibat kebodohannya sendiri. Dan jujur, Sekarang, Saya jadi merasakan apa yang Bapak rasakan.

    Kesal parah, melihat orang yang terluka atau kesakitan, akibat kebodohannya sendiri. Ingin hati berkata, “GUOBLOK SIH LU ! SAKIT KAN !” tapi kemudian sadar, orang yang lagi sakit, dibentak ‘GUOBLOK’ malah makin njerit. Jadi dipendam saja. Mungkin dulu, Bapak merasakan hal yang sama.

    Di hatinya mungkin, sudah mengumpat minimal sepuluh jenis kata terlarang buat anaknya.

    Tapi berkat didikan Bapak, Saya mau tidak mau jadi terbiasa untuk selalu berpikir dua kali. Seperti Baymax yang di-program oleh Hiro untuk melindungi dirinya, Saya di-program sama Bapak untuk melindungi diri Saya sendiri.

    Jadinya Saya tidak mudah jatuh kedalam yang namanya, “Lubang Yang Sama.”

    Terus yang paling Saya suka akibat sering berpikir dua kali, Saya jadi bisa membaca situasi. Dan ini, skill yang paling keren, dan paling berguna.

    “Memang apa siiiih hubungannya, berpikir dua kali, sama bisa baca situasiii ?” (Mungkin) beberapa dari teman – teman ada yang bertanya dengan nada yang menyebalkan seperti itu.

    Nih, dengan bisa berpikir dua kali, Saya jadi tidak gampang nge-judge tanpa alasan. Alam bawah sadar Saya pasti ngomong, “Gimana kalau ternyata, Dia ga begitu?” atau “Siapa tau dia begini karena ada sesuatu.” Akhirnya, Saya jadi tidak bertindak asal – asalan.

    Keren kan ?

    .

    Tapi, semakin bertambah dewasa, semakin banyak bulu – bulu yang tumbuh dimana saja, makin Saya sadar, sebenarnya kebiasaan ini adalah pedang bermata dua.

    Ada sisi sebelahnya, yang tanpa sadar, menggrogoti Saya pelan – pelan.

    “Maksudnyaaa..??” Lagi – lagi beberapa dari teman – teman (mungkin) ada yang bertanya dengan nada demikian.

    Karena sudah terbiasa ‘berpikir dua kali’, Saya jadi pribadi yang gampang skeptis. Saya mudah sekali ragu – ragu. Waktu yang harusnya digunakan buat ambil keputusan, malah Saya pakai untuk mikirin kemungkinan – kemungkinan yang belum tentu ada benarnya.

    Makannya Saya iri sama teman – teman yang bisa bertindak sesuai dan sebebas hatinya. Yang ga perlu mikir ini – itu, Yang tanpa di-komando tubuhnya jalan sendiri.

    Kalau kita ada dalam situasi yang sama, seperti lomba lari misalnya, Saya pasti mikir hal – hal yang ga penting seperti, “Nanti kaki kiri di depan, supaya akselerasi dan tumpuannya bisa lebih kuat dibanding kaki kanan.” atau “Gimana kalau nafasnya pendek – pendek aja, supaya tenaga yang dikeluarkan bisa efektif dan maksimal ?”

    Waktu wasit tiup peluit, Saya kaget, “Eh copot !” Kemudian makan debu. Ditinggal teman – teman yang hampir sampai garis finish.

    Saya respect dengan teman – teman yang bernyali seperti itu. Yang punya pola pikir se-sederhana itu. Memandangi mereka seperti rekreasi, untuk orang – orang yang punya pikiran kompleks kaya Saya.

    .

    Eh ! Tapi, Duh.. Saya tahu ga semuanya seperti itu. Saya menyimpulkan hanya berdasarkan dari apa yang Saya liat. Nanti kalau pada marah gimana ya ?


    Nah tuh kan, Saya mikir dua kali lagi.
    Continue Reading

    Aku melihat dunia dari balik kaca. Melayang dengan kaki di atas kepala. Sesekali berenang dalam hampa udara, terhuyung, kemudian kembali menatap planet ke tiga dalam tata surya.

    “Aku seharusnya sudah sembuh..., kan ?”

    Original Image from GOOGLE


    Dalam rangka kabur dari situasi, Aku memilih galaksi. Meninggalkan bumi dengan hanya membawa diri. Melintas lapisan udara setara awan, lalu tiba di pintu terluar planet ini.

    Aku mempersilahkan diriku tenggelam dalam suasana. Disusul takjub, oleh visual maha indah Andromeda. Gugus – gugus bintang, asteroid, planet, juga kenangan.  

    Iya, Kenangan. Kenangan memang indah bukan ? Apalagi kalau dilihat kembali dari posisi serta situasi yang berbeda. Jauh di atas Bumi misalnya. jauh dari subjek, jauh dari luka.

    Seolah - olah terlihat lemah ya ? Biarlah. Aku memang seorang terdakwa dari kalimat, “Yang lari dari masalah, hanyalah orang – orang lemah.” Tapi menurutku, untuk bisa sekuat Sang Surya, Aku harus mencicipi rasanya jatuh seperti bintang ke arah daratan yang paling rendah.

    Jadi saat ini, Aku hanya butuh lari. Ralat, Aku butuh sembuh.

    Dan proses untuk sembuh itu tidak mudah. Buktinya saja, Aku perlu lari dari Bumi. Dengan harapan, perbedaan jarak yang tidak biasa, bisa membantuku berpikir berulang - kali.

    Tetapi, ‘Luka’, adalah sesuatu yang tidak pernah main – main. Seperti bekas meteor pada bulan, luka bisa merubah bentuk seseorang. Dan hebatnya lagi, sama seperti batu – batuan di angkasa yang tidak sengaja menabrak planet. ‘Luka’, bisa menghancurkan siapa saja dengan tiba – tiba.

    Untuk sembuh dari luka, bukannya tidak bisa, tapi tentu perlu waktu yang lebih dari biasanya. Tidak melulu harus lama, namun tidak sebentar juga. Beberapa berkata, “Tergantung..” Jadi, satuan waktu untuk pulih, itu relatif.

    Buatku, di atas sini, di Galaksi, juga tidak banyak yang bisa dilakukan. Karena sejauh apapun kita terbang, luka pasti akan tetap ada. Luka pasti akan tetap kembali.

    Ditemani planet yang ukurannya berkali – kali lipat lebih besar dari tubuhku, Aku ter-intimidasi. Takut, dan sesak. Sempat berpikir, “Sesuatu yang se-raksasa ini, Yang kuat dan yang se-dewasa ini, mana mungkin perlu lari dari sesuatu. Ya kan ?”

    Aku merasa kecil, di ruang hampa penuh Raja.

    Aku biarkan pikiranku berkubang dalam kebingungan. Tanpa benar – benar tau cara untuk sembuh, Aku menikmati perjalanan.

    Atau mungkin, ini adalah salah satu jawabannya ? Berjalan ? Bergerak ? Pindah ? Bisa jadi. Aku mulai merasa seperti Ilmuwan, meski ber-tualang seperti Antariksawan. Bertanya ini – itu, mencari jawaban.

    Namun, sampai bisa sembuh sepenuhnya, begini rasanya tidak apa. Lari, juga proses bukan ?

    .

    Lalu, mengapa galaksi ?

    Galaksi itu pendengar yang baik. Ia tenang, meski ramai oleh asteroid yang saling beradu kuat. Ia dewasa, meski hanya sering jadi tempat pelarian bintang – bintang yang mati. Dan yang paling ku suka, Ia tidak menghakimi. Seberapa pun menjijikannya seseorang, setiap cerita tetap akan dinikmati.

    Di atas sini, Seseorang bisa bebas bersenang – senang dengan emosi. Menampakkan wajah terjeleknya saat marah, sedih, bahkan gila. Yang mungkin mereka bungkus sendiri, tidak pernah ditunjukkan kepada dunia.

    Hanya Raja – Raja raksasa ini yang menjadi saksi. Membiarkan orang asing sepertiku melepas emosi. Tidak membatasi, tidak menjadi juri.

    Mereka, Galaksi beserta isinya, seperti memberikan sebuah tempat, sebuah ruang, untuk orang – orang yang membutuhkan. Membutuhkan apa ? Apa saja. Karena Galaksi, tidak pernah memilah siapa saja yang boleh memeluknya.

    Galaksi tidak diciptakan hanya untuk dikagumi. Galaksi (beserta isinya), bisa menolong seseorang dengan caranya sendiri.


    Aku salah satu pasiennya.
    Continue Reading

    Ini terjadi setiap hari.

    Ralat, maksudku setiap waktu.

    Ledakan demi ledakan akhirnya menghancurkan dinding tempatku bersembunyi. Membuat lubang besar yang memudahkan musuh untuk mengincar kepalaku.

    Original Photo by Stijn Swinnen / Edited by me


    Suatu waktu Aku berlari sendirian. Menyusupi setiap siku kota dalam diam. Takut semua orang mendengarku. Takut mereka tau, Aku sasaran yang paling empuk untuk ditembak mati.

    Instingku berbicara, meski mulutku tertutup rapat. Mensiasati langkah, tanpa membuka kesempatan untuk siapapun mendekat.

    Kedua mataku mendetail ke setiap arah. Setiap pergerakan ku baca. Bahkan sekecil angin yang menggerak, Aku tetap harus tau.

    Semata – mata karena Aku paham, ketakutan adalah Guru yang paling bijaksana.

    Aku tidak menutup kemungkinan jika suatu saat, seseorang menemukanku dalam ke-tidak-siapan. Melumpuhkan pertahanan, kemudian meledakan kepalaku.

    Tapi setidaknya, sampai “siapapun dia” yang dengan handalnya membuatku kehabisan nafas, datang, Aku bisa bertahan semampuku.

    Kota ini ramai oleh orang – orang yang berusaha untuk bertahan hidup. Dari apa ? Dari kehidupan itu sendiri. Dari balik tempat perlindungannya, mereka mengintip. Sesekali keluar untuk menjarah kesempatan orang lain.

    Semua orang terlihat selalu siap, selalu waspada. Membuat skenario terbaik untuk bisa bertahan lebih lama. Alih – alih jika bisa sampai selamat dan bahagia.

    Mereka selalu memburu. Meski kadang tidak selalu terlihat, lebih banyak sembunyi – sembunyi.

    Aku yang berkubang diantara mereka juga sama. Bertahan hidup dari kehidupan itu sendiri. Bedanya Aku tidak memburu, Aku cukup hanya dengan mencuri waktu.

    Di titik buta kota, ada gorong – gorong bekas pembuangan. Tempat ternyaman untuk ku menaruh badan. Bersembunyi saat lelah berlarian.

    Merakit senjataku didalamnya, merencanakan caraku bertahan hidup selanjutnya, juga memuaskan diriku dalam rasa aman. Untuk sementara. Karena di suatu waktu nanti, tempat ini juga pasti akan ditemukan.

    Ironi. Aku suka mempermainkan arah, tapi tetap butuh tempat untuk pulang.

    Oh iya, dalam sehari, mungkin hampir setiap beberapa jam sekali terdengar bunyi ledakan. Menggetarkan langit – langit. Membuatku bergidik tersiaga.

    Entah meledak dimana, dan siapa yang meledakannya. Tapi sepertinya dekat, membuatku merasa terancam.

    Rasanya seperti dipaksa mengundurkan diri. Secara tidak langsung berkata, “Sudahlah cukup sampai sini saja.”

    Yang selalu dilanjutkan denganku yang memilih meringkuk dalam kebimbangan.

    Ini semua, seberbahaya itu. separah itu. Aku yakin setiap orang disini merasakan hal yang sama tanpa pernah membuka kata. Di dalam diam, Aku yakin kami saling menyetujui faktanya.

    Namun, Aku gila. Atau, sepertinya Aku merasa begitu. Nyatanya, meskipun Aku paham di luar kepala bagaimana semua ini saling berhubungan, tapi Aku dengan sadar berusaha tidak kehilangan harapan.

    Setiap menyusuri kota dalam diam, Aku meninggalkan jejak. Di dinding setiap gang yang terlewat, Di gerobak sampah tak terlihat, sampai di mata orang – orang yang mengenal.

    Sesekali ketakutan ketika mendengar ledakan. Sesekali masih harus berlarian.

    Meskipun begitu, Aku hanya ingin ditemukan. Dan mungkin kalau kota ini mengizinkan, Aku juga mau diselamatkan.

    .

    3.15 Pagi. Setengah gelas susu dingin habis disudut meja belajar. Gua kebingungan. Beberapa kali memainkan rambut dagu yang tumbuh jarang – jarang.

    “Ini sebenarnya Gua nulis apaan sih !?”


    Menurut kalian pembaca tanpa nama, ini tulisan tentang apa ?
    Continue Reading

    Jendralmu, emosi.
    Dengan batas otak yang tidak bersinergi,
    Kau lawan akal sehat.

    Penting bagimu agar tetap benar.
    Peduli setan dengan perasaan.
    Berbusa menjelaskan, haus perhatian.

    Egomu butuh makan.
    Kau minta yang berlebihan.
    Sejajar leher, pisaumu, bilamana tidak tertafsir.

    Panji berkibar tak terkalahkan
    Berkobar mulutmu teriak,
    “AKU YANG BENAR !”

    Sampai kau tau tinta di balik putihnya
    Sampai kau tau suara di belakang heningnya
    Sampai kau tau, kau hanya salah paham semata.

    .
    .
    .

    Selamat membaca bagian #ESAA. Entah Sajak atau Apa.

    Mari berkata, dan sampai jumpa.

    Continue Reading

    “Kereta dari arah Bekasi tujuan Jakarta Kota, akan segera tiba di jalur 3.”

    Seketika, ada yang berlarian. Ada yang mulai merapat ke depan. Ada yang mulai bangun dari tempat duduk. Ada yang stretching sambil memantapkan hati, “Kali ini pasti masuk kereta !”

    Oiya itu gua.

    Original Photo by Jaybparmar

    Jarak dari Bekasi ke Pasar Minggu itu, tidak dekat. Kira – kira, tidak bisa ditempuh dengan hanya berlari – lari kecil, seperti dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah. Minimal, bisa sampai 3 kali ganti unta, lah.

    Rasanya kaya pengembara. Mengingat Bekasi yang kondisinya sama seperti Gurun Sahara. Berpasir, Berdebu, Panas Terik, Fatamorgana, dan hal  yang menyangkut gurun pasir lainnya.

    Bedanya, di Gurun Sahara tidak ada macet seperti di Bekasi. Ga pernah liat kan, ada penunggang unta berhenti karena penunggang unta di depannya parkir sembarangan ? Bekasi memang kota tertjintah.

    Tapi tetap gua tempuh – tempuh juga. Lah mau gimana ? Sayang duitnya. Malah udah Semester 2 sekarang. Tanggung, 6 semester lagi. 8, kalau nanti ditengah jalan males – malesan.

    Motor jadi kendaraan utama gua untuk pulang - pergi ke kampus. Selain tidak ada yang jual “Pintu Ke mana Saja”, Motor juga yang paling mudah untuk mensiasati kondisi jalanan Jakarta.

    Meskipun pada akhirnya, yang benar – benar harus disiasati adalah waktu keberangkatannya. Karena “Macet”, adalah suatu hal yang abstrak. Makin tahun berganti, makin susah menebak keadannya.

    Udah bangun lebih pagi dari satpam kompleks, tapi tiba – tiba ada pekerjaan galian, kan sebel juga.

    Tapi beberapa hari lalu, gua dengan sembarang memutuskan untuk naik kereta. Yang setelah bertahun – tahun lamanya, gua selalu memilih motor untuk jadi kendaraan utama. SMP, SMA, Kerja, Kuliah. Yang semuanya di luar Bekasi.

    Mungkin karena, gua merasa, akhirnya gua berada pada titik jenuh naik motor. Juga malas menghadapi kondisi jalanan yang itu – itu saja. Dan lagi, seolah – olah pinggang dan punggung gua teriak, “ISTIRAHAT DULU, CUY !” gitu. Diikuti dengan bunyi – bunyi tulang yang berderik.

    Dari situ tiba – tiba muncul lah ke-bm-an untuk naik kereta.

    Hanya untuk mengetahui dan merasakan bahwa, Kereta arah Bekasi menuju Jakarta Kota, sangatlah beringas. Tidak pandang bulu dan tidak pandang gender. Ketakutan akan “keterlambatan” jadi motivasi buat orang – orang itu untuk masuk ke dalam kereta. Bagaimanapun caranya.

    Meski pihak kereta sudah berkali – kali bilang, “Kereta tidak akan berangkat jika pintu tidak bisa  ditutup dengan sempurna.” Tetap saja. Sesusah apapun, asalkan dapat pijakan dan pegangan, menurut mereka nyakitin orang sedikit tidak apalah.

    Sampai, Ibu – ibu nyelip di keteknya mas – mas. Mbak – mbak berdiri dengan posisi yang tidak normal. Gue menggunakan paha dan kepala sebagai pengganjal saat kereta berhenti dan bergerak tiba – tiba.

    Lalu dengan bodohnya, Gua salah kereta.

    Tapi percaya atau tidak, itu semua terasa benar – benar fresh dan menyenangkan.
    Gua sama sekali tidak menyesali naik kereta sedikitpun. Meskipun kadar kelelahan dan waktu tempuhnya sama aja kaya naik motor. Bahkan malah ditambah sikut – sikutan dan berebutan, lebih intense daripada naik motor.

    Kayaknya sesekali, perlu banget yang seperti itu. Adrenalin dan suasana yang baru.
    Karena, untuk melakukan hal yang sama untuk waktu yang lama, sangatlah menjengkelkan. Malah akan berakhir sangat buruk kalau terus – terusan dipaksakan.

    Itulah mengapa di dunia ini ada yang namanya liburan. Karena kita manusia, bukan mekanisme yang digerakan secara stagnan.

    Menurut gua, kabur, sesekali tidak apa – apa. Kabur disini maksudnya adalah, mencari hal yang beda, demi mensiasati hal - hal yang sama. Contoh, Naik kereta adalah cara kabur gua untuk mengecoh jenuh dan lelahnya naik motor. Sampai nanti, kembali naik motor dengan perasaan yang fun dan tidak menjengkelkan.

    Jadi, sesekali pergilah. Sesekali kaburlah.

    Mungkin hasilnya tidak seberapa, dan mungkin malah tidak ada perubahan sama sekali. Tapi, pentingnya luar biasa untuk kesehatan mental dan jiwa. Supaya tidak gila sebelum waktunya.

    .

    Dengan memasang tampang blo’on dan mengerutkan dahi, gua mikir, “Kok rasanya gua ngasih tau hal yang orang – orang udah tau ya ?”

    “Eh tapi, siapa tau mereka lupa. Bodolah.”
    .
    .
    .
    Dua ibu jari teracung, untuk kalian yang sedang melawan kejenuhan.


    Curi – curi waktu sesekali, jangan lupa.
    Continue Reading

    Bon – Bon adalah rumah kami~

    Disana Kami belajar, tumbuh besar~

    Bon – Bon Kami datang~

    Untuk mencapai cita – cita, bahagiaaa~

    Kemudian ada suara om – om, “Kami akan kembali sesaat lagi.”

    Original photo from : GOOGLE. Sisanya Gue sendiri.


    Asing tidak sama jingle di atas ? Asing tidak dengan yang namanya, “SpaceToon” ? Gua berasumsi, pasti masa kecil kalian amat sangat bahagia jika kalian ingat dengan dua hal yang gua sebutkan tadi.

    SpaceToon, surganya animasi. Oasis ditengah padang pasir acara gossip dan berita. Pengecualian untuk sinetron. Karena dulu, meski ga ngerti apa – apa, nonton sinetron adalah waktu terbaik bersama orang tua.

    Nikmat duniawi itu, kalau nonton SpaceToon, sehabis pulang sekolah, sambil makan siang. Peduli amat sama mandi. Keringetan, bau matahari, yang penting setel TV, pencet ke SpaceToon.

    Gua ingat sekali dengan serial animasi Time Bokan dan Petualangan Hachi si Lebah Madu. Bisa nonton sampai berjam – jam, dan kesel bila diganggu.

    Yang kemudian dengan semakin bertambahnya umur, gua menyadari, apa yang dilakukan Hachi sangat berbahaya pada umurnya. Bayangkan di umur segitu, Hachi udah masuk – masuk  hutan, pukul – pukulan sama kumbang tanduk. Gua umur segitu, mau main harus makan sayur dulu baru boleh keluar.

    Tapi, Hachi mengajarkan gua bahwa, seorang mama memang pantas untuk diperjuangkan. Bahkan hingga ke ujung dunia. Dan juga membuat gua bersyukur, masa kecil gua tidak serumit dan sekeras Hachi. Hamdallah.

    Entah mengapa gua mulai mengingat acara – acara itu sekarang. Mungkin salah satunya karena, jiwa kekanakan dalam diri gua minta dibebasin sebentar. Imbas dari kehidupan gua yang bergerak semakin cepat setiap harinya.

    Ujug – ujug­, udah disuruh mikirin masa depan aja. Sabar atuh mak..

    Gua rasa, di umur yang dewasa pun, kita masih butuh animasi. Kartun, Anime, dan sebagainya. Animasi itu seperti air segar untuk mata, setelah terus menerus melihat angka dan kata – kata.

    Gua jadi kepikiran untuk membuat animasi juga. Yang sederhana aja, sekedar guyon dan santai – santai belaka.

    Meskipun gua ga terlalu bisa gambar, tapi gua bisa menyumbang ide cerita. Semacam kerja tim gitu, atau kolaborasi. Kalian jadi Illustratornya, seseorang jadi Animatornya, Gua jadi Storywritternya. Gimana ?

    Gua soft-selling gapapa ya. Pokoknya kalau butuh apa – apa, itu bagian paling atas ada pilihan “Sini Contact”. Klik aja. Sip.

    Gua mulai kepo – kepo tentang animasi, kartun, dan sebagainya, setelah mengintip profil Instagram dari seorang Ryan Adriandhy. Kalian pasti kenal dia dari serial Malam Minggu Miko, atau Stand up comedy, atau malah sebagai Kartunis sekarang.

    Di salah satu video Youtubenya Raditya Dika, Ryan Adriandhy pernah mencontohkan bagaimana sebuah proses pembuatan animasi secara sederhana. Yang ternyata tidak sesederhana yang gua pikirkan.

    Pernah denger istilah frame per second ? atau yang disingkat FPS ? Buat lu pada yang sering main game, atau ga asing sama kamera, pasti taulah istilah ini.

    Sederhananya, FPS itu jumlah frame gambar yang ditangkap dalam satu detik. Semakin banyak gambar yang ditangkap, maka akan semakin tajam dan terpercaya hasilnya.

    Dan ternyata FPS ini juga berlaku di dunia Animasi. 24 – 30 Frame per-second. Berarti ada 24 – 30 gambar dalam satu detik. Nah ngeheknya adalah, kalau pakai kamera kan kita tinggal pencet tombol shutter. Lah kalo di Animasi harus digambar satu – satu !

    Segitu banyak gambar, Cuma untuk satu detik. Sekedar sekelibat doang di layar.

    Sekarang bayangin film animasi layar lebar seperti Up, Monster .Inc, Finding Nemo, dll, yang durasinya lebih dari satu jam. Berapa banyak gambar, itu Animator bikin !?

    Katakanlah Cuma gestur mata yang lagi mengedip. Itu butuh 24 -30an gambar, dari mata kebuka, kelopak ketutup, sampai mata kebuka lagi. Gokil.

    Kasian juga ya, untuk sebuah usaha yang memakan waktu lama, tapi hasilnya belum tentu disadari atau engga.

    Apasih yang ada di otak para Animator itu ? Kok kuat ya buat gambar segitu banyak ? Mungkin alasannya klise, macam Passion, hobby, dan tetek bengek tentang mimpi kali ya.

    Tetap aja 24-30 lembar gambar itu ga sedikit. Apalagi cuma untuk satu detik. Sungguh pemanfaatan waktu yang ga kira – kira.

    Gua masang tampang blo’on, sembari otak gua berpikir, “Gila. Satu detik gua, gua pakai buat apa ya ?” Yang kemudian gua sadar, terlalu banyak detik – detik yang gua buang sia – sia.

    .
    .
    .

    Kalau hidup itu sebuah Animasi. 1 detik ini lu mau isi dengan apa ?


    Inget, 1 detik butuh  24 - 30 kali usaha. Masa iya mau gitu - gitu aja !?
    Continue Reading

    Disclaimer : Adanya kata, ‘Suntik Silikon’ di judul tulisan, bukan berarti tulisan ini mengandung informasi tentang jasa operasi plastik, atau cara memperbesar ukuran payudara.

    Silahkan beralih ke situs lain yang menyediakan konten begituan. Sip.

    Original Photo from PIXABAY

    Seorang pemeran dalam sebuah pertunjukan drama, dituntut untuk membuat karakter yang dibawakannya, ‘hidup’. Supaya penonton bisa ikut mendalami cerita, dan tidak mulai gelisah mau pulang. Kecuali rumahnya kebakaran atau burung peliharaannya dimaling orang, ya bolehin lah pulang. Kejam amat.

    Pokoknya entah pakai improvisasi atau cara lainnya, penonton tidak boleh sampai merasa jenuh.

    Karena biasanya kalau penonton sudah bosan dengan pertunjukan yang dibawakan, mereka pasti mulai cari – cari kesibukan sendiri. Dari main smartphone, gigit kuku jari, isep jempol kaki, kayang, sampai yang paling simple itu ngobrol sama teman di sampingnya.

    Jujur saja, gua paling benci sama orang yang mengobrol saat sedang berlangsungnya sebuah pertunjukan drama. Selain mengganggu, rasanya juga barbar dan tidak etis.

    Terus juga masalahnya, ini bukan pertandingan sepak bola yang harus dikomentari.

    Masa tiba – tiba, “IYAK ! Ken Arok datang menunggang kuda, membawa panah, menuju Ken Dedes, UMPAN CUEK ! JEGERR ! Tertancap sudah di hatinya, sodara – sodara !” Kan bego.

    Kalo boleh, mau gua bikinin kopi, ambilin asbak, terus gua gamparin satu – satu. Biar makin banyak bahan obrolannya.

    Iya, bisa sekesal itu, karena gua pribadi tau rasanya jadi pemeran dalam suatu pertunjukan drama. Meskipun masih sekedar level, ‘yang penting ambil nilai bahasa inggris’, tapi lumayan serius juga.

    Yang ditempuh seorang pemeran itu tidak sebentar. Mulai dari concepting, mind-mapping, simulasi atau latihan, kemudian eksekusi, sampai ke hasil akhirnya nanti. Entah itu dapat tepuk tangan, atau malah dilempar kuaci.

    Ditambah latihan berhari – hari. Gagal berkali – kali. Sampai, yang penting apal dialog daripada ingat mandi.

    Itu semua yang membuat gua suka, sama yang namanya ‘pertunjukan’. Karena prosesnya. Entah itu musik, drama, stand up comedy, dan lain – lain.

    Seorang pemeran juga punya tanggung jawab yang cukup besar. Untuk dirinya sendiri, lawan main, dan penonton yang datang. Kredibilitas sebuah pertunjukan bisa ditentukan dari performa para pemerannya. Meskipun bukan itu doang faktor satu – satunya.

    Tidak bisa sampai di atas, kalau belum mulai dari bawah. Untuk mendapatkan peran yang cocok, butuh audisi dan latihan berkali – kali. Agar kemampuannya di akui banyak orang, juga bukan perkara yang mudah.

    Terkadang, bukan semua tapi beberapa orang, tidak punya cukup kesabaran untuk merintis secara perlahan. Biasanya mereka – meraka tuh, yang menuhankan ketenaran.

    *Sekali lagi, bukan semua tapi beberapa.

    Mereka pasti menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Seperti menggunakan ‘Suntik Silikon’ sebagai contohnya.

    Sudah sering dengar kan, bagaimana cara orang – orang yang menunjang karirnya lebih tinggi, dengan cara memvermak kecantikan dan ketampanannya sendiri ?

    Mereka mengizinkan bentuk tubuhnya di ubah. Mereka me-normalisasi-kan, ‘kepalsuan’. Demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

    Meskipun, ada benarnya kalau orang – orang bilang, “kalau mau sesuatu, ya harus berkorban.” Tapi bukannya kelewatan ya, kalau mengubah apa yang diberi sama Tuhan ? Kecuali untuk alasan medis dan hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan.

    Kasihan, badannya oplosan.

    Mereka, pemeran, seperti ‘dikejar target’ sama penonton. Mereka, sampai rela menyuntikan zat kimia kedalam tubuh, demi kepuasan penonton. Meski ada alasan kepuasan sendiri juga, tapi yang jadi dasar awalnya kan orang lain. Kalau tidak ada yang melihat, buang – buang duit doang pakai suntik silikon segala.

    Kurang lebih kaya di kehidupan sehari – hari lah. Saat kita butuh untuk, ‘mengubah sesuatu demi sesuatu’.

    *

    Beberapa minggu yang lalu, gua dan Fista, sesama penulis blog, bergantian memberikan  sebuah topik untuk mengisi tulisan di blog masing – masing.

    Gua menantang Fista untuk menuliskan sesuatu tentang cinta/hubungan, karena waktu itu bertepatan dengan minggu – minggu perayaan Valentine. Sedangkan dia, memberikan gua sebuah topik yang cukup sederhana, “menurut lu, ada ga sih orang yang tidak fake ?”. Gitu.

    Dan, boi oh boi, entah kenapa gua butuh waktu yang cukup lama untuk mengerjakan tulisan ini. Sungguh sebuah topik sederhana yang ternyata rumit juga.

    “Ada ga sih orang yang tidak fake ?”

    Jawaban gua pribadi, ada. Tapi, bukan ‘tidak fake’ atau ‘tidak palsu’, melainkan lebih ke, ‘punya karakter sendiri’.

    Setuju ga, kalau gua bilang, “Setiap Kita, hanyalah seorang pemeran di dalam panggung orang lain.” ?

    Yang artinya, kita cuma sesosok manusia, yang sengaja/tanpa sengaja menjalani kehidupannya sendiri, di kehidupan orang lain.

    Sedih ya kalau dipikir – pikir. Bisa jadi kita hanya sekedar aktor saja, tidak ada yang kenal, jadi sekedar bahan tontonan saja. Masih melayang – layang dibatas, penonton suka atau tidak dengan penampilan kita.

    Tapi, ada satu hal yang bisa membuat diri kita, noticable. Sama seperti seorang pemeran yang rela suntik silikon, demi mendapatkan peran dan jadi lebih famous.

    Kita butuh yang namanya, ‘karakter’.

    Bahkan jika sampai harus melakukan sesuatu yang ‘fake’, yang ‘bukan gue banget’.

    Kalau demi tidak dibuangnya kita dari kehidupan seseorang. Demi kehadiran kita terlihat oleh seseorang tersebut. Demi seseorang tersebut jadi milik kita sendiri. Sah – sah saja.

    Yang penting asik, terus ga ngusik. Gua pribadi sih santai aja. Entah kalau lu pada maunya kaya gimana.

    .

    *PS : kalau mau lihat tulisan yang dibuat Fista, bisa klik DISINI.

    .
    .
    .

    Jadi kalau ada yang ngomong ke kalian, “yang penting, gua ga fake !” sampai muncrat. Ya biar sajalah.

    Selama tidak mengganggu. Ya mungkin mereka sedang berusaha menarik perhatianmu, atau sedang dalam usaha mencari jati diri. Gitu.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Siapa Ini ?

    Foto Profil 2020

    Jo Reha

    Hallo ! Apa kabar ? Saya Jo, yang biasanya nulis di blog ini. Maaf ya kalau tulisannya kurang jelas atau enggak masuk akal. Karena memang begitu Saya orangnya.

    Mikirnya kejauhan, Imajinasinya ketinggian. Jadi, salam kenal !

    Lebih Lanjut

    • facebook
    • twitter
    • instagram
    • youtube

    Bacaan Terbaik

    • Sudut Bumi Paling 'Edan'
    • The Game of Waiting
    • Pemeran, Penonton, dan Suntik Silikon
    • Galaksi, Ini dan Itu.

    Bacaan Terbaru

    Labels

    bekasi cerpen curhat kritik mikir Personal Thought random santai

    Arsip Blog

    • Oktober 2020 (1)
    • Agustus 2020 (1)
    • Januari 2020 (1)
    • November 2019 (1)
    • Agustus 2019 (1)
    • September 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juli 2018 (2)
    • Januari 2018 (1)
    • November 2017 (1)
    • Juli 2017 (1)
    • April 2017 (3)
    • Februari 2017 (3)
    • Januari 2017 (4)
    • Desember 2016 (1)
    • November 2016 (2)
    • Oktober 2016 (1)

    Para Pembaca

    Facebook Twitter Instagram Google Plus

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top